Top News

Program Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru Jawa Barat atau yang lebih dikenal dengan WUB Jabar merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada periode pemerintah Gubernur Ahmad Heryawan tahun 2013 – 2018. Program yang bertujuan untuk mengatasi bonus demografi di Jawa Barat selain memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak muda untuk menjadi wirausaha, meningkatkan daya saing wirausaha yang sudah berbisnis serta diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Tujuan mulia ini sudah berjalan selama empat tahun dan tahun ini, menjadi tahun kelima program pencetakan seratus ribu wirausaha baru Jawa Barat yang diselenggarakan oleh 13 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di lingkungan Provinsi Jawa Barat. Beberapa diantaranya adalah Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jabar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar, Dinas pendidikan Provinsi Jabar, Dinas perikanan dan Kelautan Provinsi Jabar, Dinas Perkebunan Provinsi Jabar, Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, Dinas Kesehatan Provinsi Jabar dan beberapa dinas lainnya.

Berdasarkan data yang diberikan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat, sampai dengan tahun 2017, jumlah wirausaha baru yang sudah mengikuti program ini mencapai 129 ribu an, yang berarti bahwa jumlah realisasi sudah melewati target seratus ribu. Hal ini belum digabung dengan program yang sedang berjalan. Salah satunya Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat yang berperan sebagai leading sector program ini mencetak 3000 wirausaha baru di tahun 2018.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kelanjutan bagi wirausaha baru Jabar yang sudah mengikuti program ini dan juga anak muda yang belum mengikuti program ini? Pertanyaan ini akan menjadi sangat stratejik bagi pemerintah dan juga stakeholders lainnya yang concern dengan gerakan wirausaha di Jawa Barat, apalagi kembali kepada konteks tadi yaitu bonus demografi dari rakyat Jawa Barat yang berjumlah lebih dari 47 juta jiwa ini serta daya saing yang seharusya dimiliki oleh anak muda yang sudah berbisnis.

Untuk menjawab pertanyaan pertama, anak muda yang sudah mendapatkan program WUB ini harus dibina dan diarahkan untuk bisa menjadi wirausaha yang bisa naik kelas atau scale up dari skala mikro, kecil, menengah dan besar. Hal ini menjadi penting karena wirausaha ini yang tersebar di 27 kota dan kabupaten membutuhkan penguatan di empat aspek untuk bisa mencapai competitive advantage atau daya saing agar kinerja bisnisnya bisa sesuai dengan target mereka masing-masing.

Adapun empat aspek yang harus ditingkatkan adalah entrepreneurial mindset atau mindset kewirausahaan, kapabilitas organisasi berupa manajemen stratejik, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen operasi, manajemen sumber daya manusia serta teknologi informasi. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana WUB ini bisa memanfaatkan social capital atau modal sosial yang diberikan oleh akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media yang tergabung dalam model Pentahelix.

Adapun bagi anak muda yang belum tergabung dalam program WUB ini, diharapkan bagi pemimpin baru di Jawa Barat, bisa dilanjutkan karena ini menyentuh lapisan utama di masyarakat yaitu anak muda yang berusia antara 18 – 55 tahun. Mereka adalah kelompok utama yang menjadi bagian dari bonus demografi tersebut. selain itu, tentu perlunya perbaikan dalam program ini, khususnya dalam konteks peserta yang akan mengikuti program WUB, instruktur yang memberikan materi pelatihan, materi pelatihan, metode pelatihan serta tindak lanjut dari program WUB. Yang tidak kalah penting adalah perkuatan kontribusi dari penta helix dalam kerangka peningkatan kualitas lulusan WUB ini.

Disinilah stratejiknya program WUB yang semula hanya sebuah program unggulan dari Ahmad Heryawan selaku gubernur, tetapi sudah memberikan multiplier effect yang seperti bola salju untuk pengembangan wirausaha di Jawa Barat. Rasanya, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan program ini dan juga meningkatkan kualitas lulusan program WUB ini.
Salah satu aspek penting dalam komunikasi adalah sejauhmana kita mampu memberikan empati kepada lawan bicara atau pihak yang kita ajak berkomunikasi karena berhubungan dengan faktor kesuksesan kita dalam berkomunikasi. Seringkali entrepeneur atau manajer yang gagal mendapatkan respon yang positif dari audiens ketika berkomunikasi meskipun mereka sudah menyampaikan dengan yang terbaik menurut mereka. Oleh karena itu, perlu kita sebagai seorang entrepeneur.

1. Memahami tujuan dari komunikasi yang dilakukan
Komunikasi yang dilakukan oleh para entrepreneur pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Umumnya entrepreneur sudah tahu bahwa tujuannya adalah salah satu dari attenttion, interest, desire dan action, hal ini harus dipahami dengan baik.

2. Memahami target audiens
Disinilah awal berbicara tentang empati dalam berkomunikasi. Empati adalah bagaimana seseorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini, entrepreneur benar-benar paham apa yang dirasakan oleh target audiens terhadap pesan yang kita sampaikan, media yang kita gunakan, bahkan sampai dengan respon yang akan mereka berikan.

3. Memahami pesan yang akan disampaikan
Ini tahap yang sangat menentukan karena pesan inilah yang akan menjadi aspek yang akan diterima oleh para audiens. Pesan harus bisa dibuat sesederhana mungkin sesuai dengan target audiens karena merekalah yang akan menerima pesan tersebut.

4. Memahami media yang akan digunakan
Media menjadi faktor yang menentukan sejauh mana pesain ini akan diterima oleh target audiens. Banyak sekali media saat ini dan harus dipahami media yang paling sesuai dengan target audiens tersebut, kesalahan dalam pemahaman atas media, akan berdampak kepada kualitas pesan yang disampaikan.
5. Menduga respon yang akan diberikan oleh audiens.

Sejatinya, seorang entrepreneur harus mulai menduga respon yang akan diberikan oleh audiens atas pesan yang mereka sampaikan. Hal ini penting karena akan mempengaruhi apakah pesan diterima dengan baik atau tidak.

6. Lakukan latihan
Aspek empati ini harus terus dilatih oleh setiap entrepreneur agar bisa sensitif terhadap apa yang dirasakan oleh setiap target audiens. Rasakan apa yang dirasakan oleh orang lain maka entrepreneur akan sangat paham dengan target audiens.

7. Evaluasi dan lakukan perbaikan
Dari setiap latihan, lakukan evaluasi dan perbaikan atas empati yang digunakan dalam berkomunikasi sehingga setiap saat akan terasa kemajuan dalam berkomunikasi. 
Beberapa hari ini masyarakat Indonesia disibukkan dengan polemik yang berasal dari kebijakan kementrian agama Republik Indonesia seputar rekomendasi 200 ulama untuk memberikan ceramah kepada umat muslim.  Dua ratus ulama tersebut dipilih berdasarkan rekomendasi dari beberapa pihak berdasarkan beberapa indikator yang disampaikan oleh Menteri Agama. Hanya saja, niat baik untuk memberikan referensi ulama untuk berceramah kepada umat ini tidak berdampak positif buat masyarakat muslim Indonesia. Banyak yang menentang kebijakan pemerintah ini dan pastinya akan memberikan efek negatif bagi pemerintah Indonesia, khususnya kementrian Agama Republik Indonesia.

Sebagai seorang entrepreneur, tentu ada pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini karena berhubungan dengan kebijakan strategis bagi banyak orang. Disinilah konteks bagaimana entrepeneur harus benar-benar memahami konteks pengambilan keputusan strategis bagi perusahaan. kenapa demikian? Kalau diamati dengan mendalam, jelas sekali keputusan seorang entrepeneru tidak hanya berdampak kepada diri mereka, akan tetapi akan berdampak juga kepada banyak orang, termasuk konsumen, karyawan, distributor, supplier bahkan pesaing. Demikian juga dengan pemerintah, perbankan dan lain-lain. 

Keputusan adalah hasil dari sebuah proses panjang yang harus dilakukan oleh setiap entrepreneur agar bisa memberikan value yang optimal dan bahkan mampu memberikan superior value bagi perusahaan. kenapa demikian? Karena pada hakekatnya, setiap keputusan itu melewati sebuah proses atau beberapa tahap yaitu mulai dari problem identification, search for alternative solution, evaluation alternative solution, decide, implementation dan juga evaluation dari setiap keputusan. 

Apalagi keputusan yang bersifat stratejik yang pastinya memiliki karakteristik yaitu dipengaruhi oleh lingkungan, melibatkan banyak orang dan bahkan berdampak meluas serta jangka panjang. Semuanya harus diperhatikan dengan baik agar keputusan tersebut tidak merugikan pihak-pihak tertentu yang pada akhirnya juga akan berdampak kepada entrepreneur itu juga. 

Oleh karenta itu, entrepreneur harus menyadari bahwa tugas utama mereka itu membuat keputusan untuk bisa memberikan value kepada perusahaan. Kedua, pahami dulu fenomena masalah agar bisa didapatkan sebuah akar masalah yang akan dicari alternative solusinya. Ini penting karena jangan hanya menetapkan satu pemikiran sebagai sebuah solusi sementara masih ada beberapa alternative solusi untuk memecahkan akar masalah tersebut. selanjutnya entrepreneur harus bisa melihat berbagai stakeholders yang akan kena dampak dari keputusan tersebut sehingga kalau sudah tepat, tidak akan ada pihak yang komplain dengan keputusan tersebut. bagaimana dengan anda? Hmmm…..
Keputusan merupakan tugas yang paling utama yang harus dibuat oleh para entrepreneur karena sejatinya, tugas utama setiap entrepreneur adalah membuat keputusan. Keputusan para entrepreneur akan dilihat dari aspek kualitas dan kontribusinya kepada pencapai tujuan entrepreneur dalam berbisnis yaitu profit, people, planet dan sustainability serta tumbuh dan berkembang.

1. Menyadari bahwa tugas utama setiap entrepreneur adalah membuat keputusan
Tugas utama setiap entrepreneur dalam bisnis adalah membuat keputusan yang berhubungan dengan bisnis mereka. Hal ini dilihat dari orang-orang sukses bahwa mereka setiap saat membuat keputusan yang dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan bisnis itu sendiri.

2. Menyadari bahwa bisnis itu banyak masalah dan harus diselesaikan
Masalah itu pasti ada dalam bisnis. Bahkan secara ekstrim bisa disebutkan bahwa bisnis itu masalah karena begitu banyaknya masalah yang ditimbulkan dari diri sendiri, lingkungan internal bisnis sampai dengan lingkungan eksternal bisnis. Semuanya memberikan kontribusi pada terjadinya masalah di perusahaan.

3. Penyelesaian masalah bisnis itu berhubungan dengan tujuan bisnis.
Solusi yang dihasilkan dari bisnis itu harus bisa berkontribusi positif terhadap tujuan bisnis yaitu meningkatkan profit, memberikan manfaat kepada banyak orang, menjaga kelestarian alam serta tumbuh dan berkembang sampai jangka panjang. Ini menjadi fondasi bagi setiap entrepreneur dalam menyelesaikan masalah bisnis tersebut.

4. Menyadari sumber masalah
Entrepreneur harus memiliki pemahaman bahwa masalah itu harus diselesaikan dari akar masalah karena tanpa itu, masalah tidak akan selesai. Akar masalah itu berawal dari pengetahuan tentang fenomena yang yang dihadapi oleh para entrepeneur.

5. Memahami tahapan pengambilan keputusan
Disinilah poin utama yang berhubungan dengan tahap empat di atas bahwa entrepreneur harus bisa mencari akar masalah agar bisa mencari solusi terbaik dan efektif serta efisien.

6. Menetapkan tujuan pengambilan keputusan
Kembali kepada dasarnya yaitu bahwa tujuan pengambilan keputusan adalah untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, entrepreneur harus fokus ke penyelesaian masalah.

7. Berfikir sistem
Hal ini lebih dari apa yang ada di nomor enam yaitu bagaimana entrepreneur harus bisa memiliki kerangka berfikir bahwa keputusan itu harus sampai kepada outcome atau dampak dari keputusan khususnya berdampak positif dan jangka panjang.