Seorang entrepreneur adalah sejatinya menjadi pemimpin yang sukses dalam memimpin dirinya dan juga orang lain. “Kegagalan saya dalam berbisnis adalah karena saya gagal memimpin diri saya terlebih dahulu dan juga anak buah saya….” Kata seorang pengusaha yang mengalami kebangkrutan beberapa waktu lalu yang membuat saya juga menjadi merinding mendengarnya.

Padahal, diwaktu bisnisnya besar, orang sangat mengeluk-elukkan dia karena skala bisnisnya yang begitu besar dalam waktu singkat dan terus membuat orang berkarya karena mampu membuka lapangan pekerjaan yang bisa dimanfaatkan oleh para pencari kerja. Selain itu, pengelolaan manajemennya juga sudah bagus karena memperkerjakan tim yang professional dengan bayaran yang tidak sedikit. Bahkan menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam mengelola bisnis.



Satu hal pagi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana dia seringkali diliput oleh media cetak dan media elektronik tentang bahasan manajemen yang digunakan untuk mengelola bisnisnya. Fotonya seringkali muncul di media dan membuat orang menjadi sangat mengenal dia. Rasanya, dia adalah benar-benar contoh pengusaha ideal yang mampu mengelola bisnis dengan baik dan membuat bisnisnya tumbuh dan berkembang dari skala mikro, kecil, menengah dan besar.

Akan tetapi, seakan-akan hal itu berubah 180 dereajat dalam waktu yang singkat. Perubahan yang terjadi tiba-tiba dan membuat semua orang terperangah tentang kondisi internal perusahaan teman tersebut. Tiba-tiba, kejatuhan menimpa dirinya dan bahkan tidak ada yang menyangka apa yang menimpa dirinya tersebut adalah sesuatu yang nyata karena selama ini benar-benar dianggap sebagai seorang pengusaha sukses dengan manajemen dan skala bisnis yang fantastis.

Apa sebenarnya yang terjadi? Itulah tadi yang dinyatakan oleh teman saya di atas berhubungan dengan leadership dirinya, apalagi tentang self leadership yang dia miliki. Tidak muda menyadari dan memahami apa yang terjadi dalam diri dia tersebut ketika dihubungkan dengan kepemimpinan yang sejatinya adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi diri atau orang lain agar dapat bekerja untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Tujuannya ini berlaku untuk segala hal sehingga setiap entrepreneur itu kalau bicara leadership, akan berhubungan dengan pengaruh untuk mencapai tujuan bisnis itu sendiri.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi dengan teman saya? Pertama, dia gagal mempengaruhi dirinya sendiri dalam memimpin diri yang pada waktu itu adalah berperan sebagai seorang entrepreneur. Pada saat memimpin perusahaan, dia seharusnya mampu menjadi orang yang benar-benar bisa disiplin, fokus dalam bekerja, fokus pada target yang sudah ditetapkan dan juga bagaimana dia benar-benar menjadi pemimpin untuk dirinya dalam menjalankan peran sebagai entrepreneur.

Selama itu, dia lebih menjadi seorang bos yang seringkali hanya menyuruh anak buah bekerja sementara dia lebih asik berhubungan dengan media dan ikut berbagai aktivitas di luar perusahaan. Dia seakan-akan sangat menikmati diangkat oleh media sehingga lupa bahwa seharusnya dia itu lebih disiplin lagi ketika sudah berhubungan dengan media ketika mengelola bisnis. Tidak boleh asik di luar daripada mengelola bisnis itu sendiri.

Selain itu, dia gagal mempengaruhi bawahannya dalam bekerja. Dia terlalu percaya dengan tim manajemen yang dia pilih sehingga semuanya diserahkan kepada mereka. kepercayaan itu lah yang terjadi menjadi awal bencana buat dirinya karena ada tim yang menyalahgunakan wewenang yang ada pada dirinya. Akibatnya? Jelas pada bisnis dan dirinya sendiri dimana tim yang melakukan kecurangan dalam bekerja membuat perusahaanya menjadi terpuruk. Pengaruh dirinya kepada karyawan menjadi sangat kurang.


Oleh karena itu, sebagai seorang entrepreneur yang merupakan pemimpin  dalam bisnisnya untuk membawa bisnisnya juara, harus kembali ke hakekat leadership yaitu bagaimana kemampuan seseorang untuk mempengaruhi diri dan orang lain agar bisa mencapai tujuan secara efektif dan efisien….. SALAM JUARA….

Tulisan ada di www.juaranews.com
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: