Ada satu kejadian yang luar biasa ketika negara ini mampu "mengekspor" asap ke negara lain dan pastinya sudah menjadi isu utama di negara tersebut ketika asap sudah mengkhawatirkan dan mengganggu berbagai aktivitas bisnis dan kehidupan warganya. Singapura yang begitu merasakan dampak asap yang diakibatkan oleh kebakaran yang terjadi di negeri ini.

Bisa dirasakan ketika negara Indonesia juga "dikirimi" asap akibat pembukaan lahan oleh para pengusaha yang berupaya untuk mempercepat dan mengurangi biaya pembukaan lahan karena bertujuan untuk mencapai profit yang maksimal bagi dirinya sendiri sementara tidak memperhatikan dampaknya kepada masyarakat, apalagi negara lain yang berdekatan dengan negara dimana pengusaha membuka lahan itu sendiri.



Rasanya, hal ini perlu mendapatkan perhatian yang tinggi bagi para entrepeneru ketika para pengusaha bermaksud untuk menjalankan bisnis dan mengembangkannya serta mencari jalan yang tidak terlalu lama untuk bisa memanfaatkan seluruh potensi yang ada untuk bisnis. Tentu pemikiran ini adalah pemikiran  yang salah dan harus ditinggalkan.

Ketika rasa empati sudah hilang dalam diri dan lebih fokus kepada kepentingan diri untuk mendapatkan value yang optimal, ini adalah awal kehancuran bisnis untuk membuat bisnis tersebut tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Lihat saja, para pengusaha yang membuka lahan dengan membakar lahan dan menimbulkan asap, mereka sekarang diperiksa oleh pihak yang berwajib untuk kesalahan yang mereka perbuat. Bahkan ekstrimnya, ijin usaha ditutup oleh negara.

Tentu hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi para entrepreneur dalam berbisnis. Yang jelas,pelajarannya adalah perlu entrepreneur memperhitungkan setiap keputusan bisnis yang mereka jalankan mulai dari input, process, output, outcome dan impact. Seringkali orang terjebak pada outcome, dimana fokus pada tujuan dari keputusan yang hendak mereka capai, tetapi, lupa dengan impact atau dampak atas keputusan tersebut. Dampak yang dirasakan tidak hanya diri sendiri, bisnis sendiri, akan tetapi juga pada aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, alam dalam jangka panjang.

Itu adalah yang pertama, dan yang kedua adalah ketika entrerpeneru tidak bersahabat dengan alam. Artinya, tidak mempedulikan kondisi alam dan yakinlah, pada awalnya, Allah SWT itu menciptakan alam dengan penuh keseimbangan dan ketika manusia tidak bersahabat dengan tidak menjaga keseimbangan, maka akan terjadilah bencana dan memberhentikan bisnis para entrepreneur.

Inilah kuncinya, bagaimana entrepreneur dituntut untuk menjaga keseimbangan alam dengan bersahabat dengan alam sehingga bisnis yang dijalankan entrepreneur bisa mencapai tujuan profit, people, planet, sustainability serta tumbuh dan berkembang dari skala mikro, kecil, menengah dan besar… SO, bagaimana dengan anda? Masih tidak memikirkan alam dalam berbisnis? Hmmm…..
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: