Tantangan seorang entrepreneur adalah bagaimana mereka tetap bisa menjaga fokus kepada apa yang terjadi di lingkungan bisnis, khhususnya yang akan berdampak besar kepada bisnis. Dampak yang berifat peluang ataupun ancaman sehingga akan mempengaruhi tujuan bisnis itu sendiri yaitu profit, people, planet, sustainability serta tumbuh dan berkembang dari mikro, kecil, menengah dan besar.
Akan tetapi, fokus tersebut dipengaruhi oleh apa yang dilakukan dalam kegiatan sehari-harinya atau yang seringkali disebut dengan rutinitas. Apalagi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan, pemasaran, operasi dan sumber daya manusia serta yang relevan dengan lingkungan ekonomi yang saat ini dalam keadaan yang tidak stabil.
Kondisi makro ekonomi yang terdiri dari nilai tukar rupiah yang masih melemah meskipun sejak dikeluarkan paket kebijakan ekonomi pertama sudah mulai membaik meskipun tidak terlalu besar. Kemudian, inflasi yang tinggi. Kondisi ni sudah berdampak kepada penurunan permintaan pasar untuk produk para pelaku usaha. Bahkan rata-rata sudah mencapai 40% penurunannya.
Yang tidak kalah penting lagi adalah sudah terjadi pemutusan hubungan kerja atau PHK sebanyak 40.000 orang dinegara ini. itu baru yang tercatat. Tentu kondisi-kondisi ini membuat entrepreneur akan terganggu dalam menjalankan bisnis tersebut dan membuat fokus kepada tantangan jangka menengah semakin berkurang, dalam artian bisa jadi lupa dengan tantangan itu sendiri.
Sebagai seorang entrepreneur, tantangan jangka pendek adalah pemberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tanggal 31 Desember 2015 dimana akan diberlakukan free flow of goods, free flow of service, free flow of people, free flow of investment dan free flow of capital. Hal ini akan menjadi sebuah peluang dan juga ancaman bagi setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis.

Hanya saja, tentu setiap entrepreneur perlu melihat lingkungan di Sembilan negara ASEAN lainnya yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam dimana mereka sudah lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi MEA itu sendiri. Bahkan tidak lagi bicara kualitas karena sudah sesuatu yang wajib, mereka sudah fokus kepada pemahaman budaya Indonesia sebagai target utama pasar di ASEAN.
Bagaimana dengan entrepreneur di Indonesia. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri dan harus mempersiapkan hard skill serta soft skill dari setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis. Yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan management system dalam perusahaan mereka agar bisa menghadapi persaingan. Bagaimana dnegan anda? Hmmm…….
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: