"Kenapa ya, saat ini tayangan di televisi mayoritas adalah tayangan yang berhubungan dengan orang dewaswa dan tidak memperhatikan anak-anak. Kalaupun ada, hanya sedikit dari total jam tayang yang dimiliki oleh setiap media televisi," demikianlah pernyataan beberapa entrepreneur muda menanggapi apa yang terjadi saat ini seiring dengan kepergian selama-lamanya seorang Pak Raden  yang sangat inspiratif dan memberikan kontribusi pada pendidikan anak.
Tentu hal ini perlu dicermati oleh para entrepreneur sebagai bagian dari bangsa ini dan juga pelajaran yagn luar biasa ketika entrepeneur menjalankan peran sebagai seorang coach dan mentor bagi karyawan mereka. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap entrepeneur untuk bisa meningkatkan kompetensi setiap karyawan. learning process..

Kalau kembali ke tayangan di televisi dan hubungannya dengan anak-anak, jelas sekali terlihat bagaimana kesalahan  yang dilakukan oleh media dalam rangkap pendidikan kepada anak. Lihat saja dampaknya sekarang bagaimana kualitas perilaku dan akhlak anak-anak yang tidak baik dan berdampak kepada apa yang mereka lakukan sehari-hari, jelas jauh dari apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak. Bahkan sampai mereka dewasa. Ini adalah dampak dari kegagalan dari pendidikan bagi untuk anak melalui televise. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya generasi bangsa ini nantinya ketika mereka hanya menonton tayangan yang tidak tepat bagi mereka.
Oleh karena itu, perlu difikirkan kembali bagaimana pihak pemilik media mendesain program yang sesuai dengan anak-anak. Bangsa ini rindu dengan program seperti yang ditayangkan dalam film Unyil dan peran Pak Raden begitu besar dalam proses pendidikan ini melalui media ini.
Hal ini bisa juga terjadi pada diri setiap entrepreneur dan usaha mereka dalam meningkatkan kompetensi setiap karyawan di perusahaan. Jelas sekali bagaimana seharusnya entrepreneur harus memahami konteks learning process yang harus dipahami dengan baik sehingga setiap karyawan dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan yang ditetapkan oleh perusahaan untuk menjalankan berbagai tugas mereka.
Pertama, perlunya kesesuaian antara materi yang diberikan kepada para karyawan dengan yang mereka butuhkan. Porsi materi pembelajaran kepada karyawan disesuaikan dengan kemampuan mereka dalam menjalankan materi di pekerjaan. Ini yang disebut dengan konteks materi mereka bekerja dengan materi yang diberikan.
Kedua, pahami bahwa mereka perlu mendapatkan materi yang lebih banyak tentang pekerjaan. Penayangan materi yang relevan dengan pekerjaan akan mempermudah setiap karyawan dalam memahami materi yang diberikan. Jangan hanya memberikan prosi yang sedikit sehingga akan terjadi seperti yang dialami oleh anak-anak dalam melihat tayangan televisi seperti sekarang ini. so, sudah siap mendalami learning process bagi karyawan yang belajar dari tayangan televisi untuk anak? Bagaimana dengan anda? Hmmm…
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: