Kemaren, beritar mengejutkan tersiar di berbagai media cetak dan juga elektronik yang memberitahukan tentang hengkangnya Ford Motor Company dari Indonesia dimana Ford Motor Indonesia akan menutup operasional bisnis di Indonesia di paruh kedua tahun ini. seluruh aktivitas bisnis termasuk jaraingan diler serta penjualan serta import kendaraan akan dihentikan. Padahal, operasional Ford Motor Indonesia ini sudah mulai tahun 1989. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, akan tetapi juga di Jepang.


Tentu kejadian ini akan berdampak kepada pegawai yang bekerja di Ford Motor Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tingkat persaingan yang semakin tinggi dan mengingatkan kejadian serupa pada bulan Februari 2015 dimana General Motors yang juga menghentikan operasional di Indonesia dan menutup pabriknya di Bekasi.

Sebagai seorang entrepreneur, tentu luar biasa pelajaran yang didapat dari kejadian ini. Bagaimana kalau dilihat iklan mobil yang dikeluarkan oleh Ford Motor Company dengan produknya Ford Ranger, Everest, Escape, Focus, Fiesta dan Ecosport. Mobil-mobil tangguh yang menampilkan kualitas dan elegan. Akan tetapi, kok bisa kalah di pasar yang semestinya bisa menjadi raja di pasar Indonesia.

Inilah dampak dari persaingan di industri mobil yang luar biasa di Indonesia. Persaingan yang mampu membuat produsen mobil sekelas Ford motor dan bahkan General Motors pun harus hengkang. Kalau dilihat, persaingan itu pasti menuntut setiap perusahaan mencapai sustainable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Hal ini bisa dicapai dengan salah satu strategi yang ditempuh oleh produsen yaitu cost leadership atau focus cost leadership dan differensiasi atau focus differensiasi.

Pilihan ini harus jelas dan lihat saja, pasar Indonesia di kuasai oleh produsen mobil buatan Jepang yang mampu melakukan differensiasi menuju cost leadership. Lihat saja bagaimana mobil baru bermunculan dengan differensiasi yang juga dibuat menuju cost leadership dengan upaya efisiensi. Produsen mobil Jepang membuat pabrik di Indonesia dan mampu menekan biaya.

Berbeda halnya dengan Ford Motor Indonesia yang belum memproduksi mobil di Indonesia. Tentu hal ini membuat daya saing dari segi harga menjadi lemah dan tidak akan terpenuhi ditengah pasar Indonesia semakin dibanjiri oleh berbagai produk mobil dengan harga yang lebih murah. Low cost car atau LCC. Pasar Indonesia semakin teredukasi dengan mobil murah.

Pelajaran utama bagi entrepreneur adalah bagaimana jeli melihat need, want dan demand pasar yang sudah di edukasi oleh pesaing dan melakukan efisiensi dalam business process. Inilah yang harus dilakukan oleh entrepreneur untuk terus bisa mencapai sustainable competitive advantage. Bagaimana dengan anda? 
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: