Business Today
Beberapa hari ini, pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner, tepatnya pengusaha rumah makan menghadapi kenaikan harga daging yang dijual oleh para pedagang. Bahkan para penjual daging di pasar pun melakukan mogok berjualan yang berdampak kepada semakin langkanya penjualan daging sapi. Pemogokokan bukanlah sesuatu yang berbentuk ancaman biasa saja, akan tetapi, sudah mulai mengancam keberadaan produk di pasar dan mengganggu proses bisnis pengusaha kuliner.

Hal ini diakibatkan oleh salah satu kebijakan pemerintah yang akan menerapkan pajak penambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen untuk pemotongan setiap sapi. Selain itu, juga terjadi kelangkaan daging sapi. Hal ini membuat pedagang daging sapi keberatan karena membuat harga semakin berfluktuasi yang membuat para pedagang terkendala dalam menentukan harga daging sapi yang mereka beli dan juga dijual ke pasar.



Sebagai entrepreneur, tentu ini perlu disikapi dengan baik agar tetap membuat bisnis bisa bertahan ditengah ketidak pastian lingkungan bisnis. tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi begitu mendadaknya. Akan tetapi, jelas sekali lagi, hal ini akan selalu terjadi di dunia bisnis yang penuh dengan perubahan lingkungan yang begitu cepat dan pastinya membutuhkan seorang entrepreneur yang mampu berfikir strategik bagi bisnis mereka.

Bagi pemerintah, rasanya, hal ini perlu dikaji ulang untuk bicara tentang dampak dari setiap keputusan yang berpengaruh kepada bisnis para pedagang sapi, pedagang daging sapi, pebisnis kuliner dan juga masyarakat secara keseluruhan. Memang negara ini membutuhkan penerimaan berupa pajak yang dibayarkan oleh para pemilik sapi yang memotong sapi sebesar 10%. Akan tetapi, multiplier effect dari keputusan tersebut berdampak secara berantai yang pastinya juga akan memberikan dampak kepada penerimaan pajak dari bisnis kuliner dan juga bisnis penjualan daging.

Memang akan menjadi perdebatan ketika bicara tentang underground economy dimana pedagang sapi mmasih banyak  yang belum memiliki badan usaha ataupun badan hukum sehingga penerimaan dari pajak tidak bisa ditarik. Inilah tantangan pemerintah untuk mulai mempedulikan bagaimana menjadikan pedagang sebagai wirausaha yang dapat berkontribusi pada penerimaan negara dalam bentuk pajak.

Dari sisi entrepreneur, kesadaran tentang perubahan lingkungan seperti ini adalah sesuatu yang wajib sehingga mempersiapkan setiap entrepreneur menghadapi kondisi seperti ini. selanjutnya adalah melakukan efisiensi atas business process yang ada dalam bisnis mereka sehingga menjadi penting bagi entrepreneur untuk mulai menyadari bahwa mereka harus melakukan efisiensi. Adapun pilihan menaikkan harga adalah pilihan terakhir yang harus dibuat karena harus memperhatikan daya beli konsumen. Bagaimana dengan ada? Siap menghadapi kenaikan harga daging?  

Share To:

meriza hendri

Post A Comment: