Tepat tanggal 31 Desember 2015 yang lalu, Masyarakat Ekonomi ASEAN di berlakukan di 10 negara ASEAN dan pastinya, entrepreneur di Indonesia akan dilibatkan dalam MEA ini. jauh-jauh hari, khususnya tiga tahun belakang, sudah diingatkan bagaimana MEA akan diberlakukan dan terlihat bagaimana peluang dan ancaman yang akan dihadapi oleh para entrepreneur di Indonesia. Apalagi saat ini, Entrepreneurship memang sudah terus berkembang.

Kalau dilihat secara mendalam, MEA ini akan membuka pasar 600 juta penduduk di 10 negara ASEAN yang akan memberlakukan pasar bebas untuk free flow of goods, free flow of services, free flow of people, free flow of investment dan free flow of capital. Tentu pasar bebas ini perlu dilihat sebagai sebuah peluang dan bukannya sebagai sebuah ancaman bagi para entrepreneur. meskipun banyak pihak yang "meragukan" kesiapan entrepreneur dalam berbisnis menghadapi MEA.

Tentu perlu dianalisis dulu, siapa yang menyatakan keraguan terhadap pemberlakukan MEA ini bagi entrepreneur ditengah pemberlakukan MEA tersebut. Sebagai seorang entrepreneur, jelas sekali bahwa entrepreneur memiliki karakteristik bagaimana mereka menghadapi berbagai peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan bisnis yang selalu berubah, tidak pasti, tidak bisa dikontrol dan bahkan mengalami turbulensi.

Menjadi entrepreneur itu adalah pilihan professional setiap anak muda dalam hidup ini. artinya, ketika bicara perubahan lingkungan bisnis dan menimbulkan peluang dan ancaman, disinilah hakekat hidup bisnis para entrepreneur. mereka akan selalu bertarung menghadapi setiap resiko yang timbul dari perubahan lingkungan bisnis. Bahkan hidup di setiap lingkungan bisnis yang berubah merupakan resiko dari pilihan sebagai seorang entrepenuer. Konsep hidup High risk, high return merupakan konsep dasar yang menjadi dasar bisnis para entrepreneur dibandingkan dengan yang bukan entrepreneur.

Hanya saja, diawal tahun 2016 ini, entrepreneur perlu melakukan self assessment terhadap diri sendiri dan juga bisnis serta lingkungan bisnis dimana mereka berada. Pertama, self assessment terhadap diri sendiri. Perlu dilakukan analisis terhadap diri, khususnya menyangkut entrepreneurial mindset atau mindset kewirausahaan yang berhubungan dengan bagaimana setiap entrepreneur memiliki sikap mental yang benar dalam berbisnis.

Dalam konteks ini, beberapa hal yang perlu dimiliki entrepreneur adalah mereka memiliki sikap mental dalam melihat ataupun menciptakan setiap peluang dan merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi yang bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan alam dalam jangka panjang. Hal ini diterjemahkan kepada bagaimana entrepreneur memiliki kemampuan melihat peluang dari lingkungan dan diterjemahkan ke dalam bisnis mereka.

Selain itu, mereka harus benar-benar memiliki visi yang jelas terhadap diri sendiri dan bisnis, kreativitas dan inovasi dalam berbisnis, berani menghadapi resiko yang sudah terukur dan diperhitungkan serta memanfaatkan manajemen dalam bisnis tersebut. Tentu assessment ini akan membuat stratregi yang tepat bagi bisnis kedepan.

Assessment kedua adalah terhadap organizational capability atau kapabilitas organisasi perusahaan setiap entrepreneur. hal ini berhubungan dengan bagaimana kemampuan setiap entrepreneur dalam mengelola manajemen strategik, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen operasi dan manajemen sumber daya manusia serta teknologi informasi dalam bisnis. Assessment ini penting karena berhubungan dengan competency setiap entrepreneur mengelola bisnis. Sejatinya, entrepreneur harus mencapai core competency dalam pengelolaan bisnis mereka.

Assessment ketiga adalah terhadap lingkungan eksternal bisnis setiap entrepreneur dan bisnisnya. Dalam hal ini, lingkungan bisnis eksternal mikro yang terdiri dari consumer, competitor, channel of distribution dan center atau supplier. Adapun lingkungan eksternal makro terdiri dari politik, ekonomi, sosial, budaya dan teknologi yang mempengaruhi bisnis entrepreneur. demikian juga dengan lingkungan global yang salah satunya MEA.

Inilah yang perlu dilakukan oleh entrepreneur di awal tahun 2016 ini sehingga akan diketahui posisi bisnis setiap entrepreneur di pasar. market positioning ini akan menentukan strategi yang akan digunakan dalam memenangkan persaingan di MEA. Ingat, sebagai entrepeneur Indonesia, kita harus menang di pasar MEA, khususnya di Indonesia yang memiliki pasar lebih dari 250 juta jiwa. So, let's be a strategic entrepreneur ….

Meriza Hendri, founder STRABIZ Management Consulting, GIMB Foundation



Share To:

meriza hendri

Post A Comment: