Meriza Hendri

Beberapa waktu ini, terjadi sebuah diskusi yang sangat penting menyangkut kota Bandung yang pastinya tidak bisa dilepaskan dari Kang Emil sebagai walikota yang sangat dicintai oleh warga Bandung. Tentu hal ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat Kota Bandung dan membuat warga agak resah karena menyangkut bagaimana leadership dari seorang kang Emil di Kota Bandung ketika dia mendapatkan tawaran untuk menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta.

Dalam konteks hak, tentu boleh saja kang Emil memilih untuk menjadi apa yang dia inginkan. Setiap orang memiliki hak untuk menjadi apa yang dia inginkan, akan tetapi, tentu hak saja tidak bisa diliha sebagai sebuah alasan untuk memutuskan sesuatu yang diinginkan. Ada sebuah janji dan kewajiban yang melekat pada diri seorang pemimpin ketika mereka dilantik untuk menjadi seorang pejabat.


Rasanya, hal ini perlu menjadi perhatian untuk setiap entrepreneur dalam berbisnis dimana mereka seringkali digoda untuk jabatan yang lebih tinggi karena dilihat memiliki potensi oleh banyak orang dan jelas, hal ini dilatar belakangi oleh sebuah kepentingan dari setiap orang. Terlepas kepentingan tersebut memiliki irisan dengan kepentingan Kang Emil, akan tetapi, sebagai seorang pemimpin, kang Emil sejatinya memberikan analisis yang sangat tinggi karena berhubungan dengan bagaimana sejatinya seorang leader.

Godaan bagi seorang leader itu adalah hal yang wajar akan tetapi, lihat saja bagaimana sebuah keputusan yang seringkali dibuat oleh leader menjadi blunder ketika dihubungkan dengan janji yang sudah mereka buat di depan masyarakat dan bahkan sumpah. Tentu hal ini harus menjadi pertimbangan yang mendasar bagi kang Emil untuk tidak tergoda dengan penawaran yang disampaikan oleh partai-partai yang mencalonkannya.

Pertama, kan Emil perlu mengingat kembali hakekat seorang leader yang nantinya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat nanti atas kepemimpinannya di Kota Bandung. Hampir tiga juga jiwa penduduk Kota Bandung merupakan orang yang dipimpinnya dan akan meminta pertanggungjawabannya.

Kedua, Kang Emil diingatkan kembali untuk sumpah yang sudah disampaikan di depan rakyat Bandung dan dibawah kita Suci dan pastinya menjadi sebuah dasar pemikiran untuk menjadi leader yang kuat dan dicintai oleh banyak orang.

Ketiga, Kang Emil jangan mengecewakan rakyat yang dipimpinnya. Kekecewaan ini menunjukkan bagaimana rakyat akan merasa terzholimi dengan apa yang dirasakan ketika ditinggalkan oleh Kang Emil nantinya. Ingat, doa orang yang terzholimi akan diijabah oleh Allah SWT dan tentunya tidak diharapkan itu terjadi kepada kang Emil.

Sekarang, kembali kepada apa yang menjadi godaan bagi seorang kang Emil berupa tawaran untuk dicalonkan menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta. Saatnya kang emil memutuskan dengan dasar logika yang kuat dan tidak didominasi oleh perasaan atau emosi yang pastinya diberikan oleh partai yang mengusulkan. Terakhir, dengar kata hati karena inilah hal yang sangat penting dalam diri setiap manusia apakah merasa nyaman dengan keputusan yang dibuat? Semoga Kang Emil diberikan kekuatan untuk memutuskan yang terbaik yaitu tidak meninggalkan tugas di tengah jalan.
  
Mahasiswa program Doktor Manajemen Unpad, pembina GIMB Foundation, dosen Universitas Widyatama, Bandung, Founder STRABIZ Manajemen Bandung


Share To:

meriza hendri

Post A Comment: