Kemaren, saya berkesempatan menjadi dosen tamu di kelas School of Business and Management ITB tentang bagaimana peluang dan tantangan menghadapi Masyarakat Ekonomis ASEAN (MEA). Luar biasa bagi saya karena untuk membawakan kuliah tentang isu yang praktis bagi mahasiswa, pihak SBM ITB mengundang praktisi untuk menjelaskan kepada mahasiswa sehingga mereka memiliki pengetahuan, pemahaman serta kesadaran yang tinggi terhadap isu yang berhubungan dengan lingkungan bisnis yang notabene adalah bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis.

Lebih dari dua jam memberikan materi tentang peluang dan tantangan dalam menghadapi MEA dengan basis konsep dan teori serta praktek yang saya jalankan selama ini dalam membuat produk-produk bisnis binaan GIMB Foundation ataupun WIrausaha Baru Jawa Barat, dapat membuka kaca mata mahasiswa dalam melihat MEA itu sendiri. Tidak lagi dalam konteks ancaman semata seperti yang selama ini banyak disampaikan oleh banyak orang.
Dari kelas kemaren, Alhamdulillah, tanggapan para mahasiswa sangat positif karena mereka sebenarnya sudah diberikan tugas oleh para dosen yang membinan mata kuliah ini. tugas menjalankan bisnis, baik secara sendiri ataupun berkelompok sehingga menjadi indikator kesuksesan dalam mengikuti mata kuliah tersebut. Keingintahuan mahasiswa dalam berbisnis untuk bisa memasuki pasar ASEAN menjadi faktor yang membuat mereka semakin tertarik untuk memahami MEA.
Berangkat dari kelas kemaren, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian stakeholders saat ini ketika mendorong produk-produk wirausaha bisa memasuki pasar ASEAN dan bahkan mencapai keunggulan di pasar dengan potensi konsumen sebesar 610 juta jiwa. Sudah waktunya entrepreneur fokus dalam membangun sistem manajemen peusahaan dan produk yang sesuai dengan kualitas dan standar yang ditetapkan oleh pasar ASEAN.
Dalam konteks ini, entrepreneur harus dikenalkan dengan standar yang sudah adalah yaitu Issues and Challengesin Standards and Conformance. Entrepreneur diarahkan untuk membuat produk yang sesuai dengan persyaratan yang harus dipenuhi ketika akan memasuki pasar ASEAN. Hal ini sudah diatur secara teknis di negara Indonesia, bisa berkonsultasi kepada Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN yang bertanggungjawab untuk menyuksesakan program ini.
Conformance is Certification or confirmation that a good, service, or conduct meets the requirements of legislation, accepted practices, prescribed rules and regulations, specified standards, or terms of a contract. Dalam hal ini, produk – produk yang dihasilkan oleh wirausaha di Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat pada khususnya harus bisa memenuhi persyarakan legal, teknis dan praktis, aturan dan regulasi di negara-negara ASEAN serta standar yang ditetapkan dalam kontrak.
Pelajaran kemaren menunjukkan bagaimana masih rendahnya pemahaman entrepreneur terhatap standar produk  yang harus dipenuhi untuk bisa memasuki pasar ASEAN. Akan tetapi, tentu hal ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti karena sudah menjadi karakter seorang entrepreneur untuk melihat dari sisi yang berbeda dimana dari setiap ancaman, pasti aka nada peluang yang harus dioptimasi untuk bisa menghasilkan nilai dalam kerangka pencapaian tujuan bisnis yaitu profit, people, planet, sustainability serta bisnis yang terus tumbuh dan berkembang.
Inilah yang perlu dimiliki oleh setiap entrepreneur dalam menjalankan bisnis. bagi stakeholders di negara ini, rasanya, sudah menjadi kewajiban kita untuk mulai fokus dalam mempersiapkan entrepreneur memasuki pasar ASEAN dan meraih sustainable competitive advantage ditengah persaingan yang semakin tinggi dengan kehadiran pengusaha dari sepuluh negara lain. Yang pasti, entrepreneur harus fokus dulu mempertahankan pasar dalam negeri sembari mengembangkan pasar ke luar negeri denga meningkatkan kualitas produk sesuai standar.
  
Meriza Hendri, founder STRABIZ Management Consulting, GIMB Foundation ,
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: