Konsep yang dikembangkan dalam program Pencetakan Seratus Ribu Wirausaha Baru Jawa Barat (QUB Jabar) adalah bagaimana menjadi wirausaha baru Jawa Barat Kahiji di ASEAN. Tentu tema menjadi nomor satu di ASEAN ini bukanlah omong kosong belaka karena sudah ditetapkan sebagai tema yang harus dicapai ketika WUB memang diarahkan untuk mengembangkan pasar di sepuluh negara ASEAN yang penduduknya berjumlah lebih dari 610 juta jiwa.

Pendidikan, pelatihan serta pendampingan yang sudah diterima oleh wirausaha selama beberapa hari yang diselenggarakan oleh 13 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jawa Barat, tentu sudah menjadi dasar bagi wirausaha di Jawa Barat untuk memasuki program Kahiji di ASEAN. Akan tetapi, tentu belum cukup karena sejatinya keberhasilan program Kahiji di ASEAN ini harus dilihat ketika sejauh mana produk-produk WUB memang memasuki pasar ASEAN.



Salah satu yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan pengusaha yang memiliki pasar yang paling dekat dengan pasar ASEAN. Tentu yang paling menunjukkan wakil pasar ASEAN itu adalah Singapura dan Malaysia. Kedua pasar ini mewakili pasar yang berjumlah lebih dari 610 juta jiwa tersebut. Berbagai perilaku pasar serta need, want dan demand dari pasar ASEAN dapat dilihat dari kedua negara ini.

WUB yang mampu memahami pasar ASEAN dengan baik, tentu akan lebih mudah memasuki pasar tersebut. Oleh karena itu, tentu WUB Jawa Barat perlu melakukan “pendekatan” dengan pengusaha-pengusaha yang berada di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada umumnya dan Kota Batam pada khususnya. Para pengusaha yang berada di Kota Batam sudah terbiasa melakukan transaksi bisnis di Singapura dan Malaysia.

Hal ini sangat terasa ketika melakukan sharing dan benchmarking dengan pengusaha Kota Batam yang tergabung dalam KADINDA Kota Batam, Dekopinda Kota Batam serta pengusaha yang belum tergabung dalam kedua organisasi tersebut. Kerjasama dengan pengusaha di Kota Batam bisa dilakukan ketika WUB sudah memiliki produk yang unik dan sesuai dengan need, want dan demand pasar Singapura dan Malaysia.

Banyak  informasi yang diberikan oleh pengusaha di Batam tentang kebutuhan dan keinginan pasar Singapura dan Malaysia. Mereka tidak pelit berbagai informasi dan bahkan pengusaha tersebut meminta produk-produk yang laku di Pasar Singapura. Bahkan saat itu juga, kalau layak, bisa dipasarkan di pasar yang mereka kuasai.

Akan tetapi, mereka meminta syarat utama yaitu memiliki legal aspects yaitu bagaimana produk yang dijual tersebut memiliki ijin dari pemerintah yaitu PIRT, Halal dan sertifakasi lainnya yang relevan dengan legal aspect setiap produk. Konsumen Singapura sangat concern dengan legal aspect.

Yang selanjutnya diminta oleh pengusaha Kota Batam adalah kesesuaian kualitas, kuantitas dan waktu pengiriman atau delivery. Barang yang dipesan harus sesuai kualitas, kuantitias serta waktu pengiriman yang didasarkan kepada kontrak  kerja yang disepakati. Setiap WUB harus fokus pada ketiga aspek ini karena konsumen Singapura meminta setiap produk  yang dipesan sesuai dengan kontrak kerja.

Yang tidak kalah penting bagi WUB adalah bagaimana bisa menjamin sustainability atau kerlanjutan pengiriman barang sesuai dengan kebutuhan setiap konsumen. Banyak perjanjian selama ini yang membuat trust dari konsumen di singapura menjadi turun karena keberlanjutan dari ketersediaan produk itu tidak terjamin. Tentu nantinya akan berpengaruh kepada sustainability bisnis setiap konsumen di sana.

Inilah beberapa hal yang didapat dari benchmarking kepada pengusaha di Batam dan sudah menjadi kewajiban setiap WUB untuk meningkatkan kualitas produk dan bisnis sesuai dengan permintaan pasar ASEAN sehingga kolaborasi dengan pengusaha di Kota Batam bisa memberikan value kepada WUB dalam berbisnis untuk menjadi Kahiji di ASEAN.



Meriza Hendri, founder STRABIZ Management Consulting, GIMB Foundation ,


Share To:

meriza hendri

Post A Comment: