Inilah yang saya rasakan ketika menjadi seorang pemimpin di perusahaan dan memiliki project yang harus dikerjakan yaitu mengadakan seminar atau diskusi bisnis di Bank BJB Purwakarta. Konsep project mengingatkan saya kepada ilmu project management yang diberikan di kelas dulu dan sangat relevan dengan apa yang saya alami saat ini. Project management.... hmmmm... beda sekali dengan pekerjaan yang biasa dilakukan.

Project ini berhubungan dengan bagaimana mengadakan program I Love Business (ILB) yang merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh GIMB Entrepreneur School (GES) setiap senin malam. Program rutin yang ditujukan bagi entrepreneur muda dalammembangun bisnis mereka dan mendapatkan sharing knowledge, skill dan attitude serta pengalaman entrepreneur sukses.


Biasanya, peserta ILB ini berkisar antara 30 – 70 orang entrepreneur dengan latar belakang bisnis yang beragam sehinga dapat dianggap sebagai pertemuan entrepreneur secara rutin dan sudah membentuk suatu komunitas yang berbagi pengetahuan dan pengalaman bisnis dari entrepreneur sukses. Luar biasa program yang sudah berjalan sampai 43 kali ini di Kota Bandung.

Namun demikian, pada ILB yang ke 44 ini, programnya agak berbeda dimana pelaksanaan kegiatan di Bank BJB Purwakarta dengan mendatangkan entrepeneur dari berbagai tempat di Kabupaten Purwakarta. Mereka adalah entrepreneur sukses dan menjadi binaan bank BJB serta berbagai komunitas entrepreneurship yang berkembang di kota ini. Targetnya adalah 100 entrepreneur yang akan hadir.

Hal ini tidak bisa dianggap biasa karena jelas konteks nya berbeda meskipun secara isi dari acara tersebut tidak berbeda. Akan sama dengan ILB yang diselengarakan di Kota Bandung. Inilah yang menjadi perhatian saya sebagai leader di GIMB Foundation yang membawahi program I Love Business ini. Saya menganggap ini adalah suatu project dan harus diberlakukan sebagai project yang kudu di manage. Itulah kenapa ada ilmu dengan project management yang harus dijalankan.

Akan tetapi, kenapa anggota tim belum merasakan hal yang sama dengan saya? kenapa mereka seakan-akan belum melihat ini sebagai suatu project? Hal ini terlihat dari bagaimana mereka mengelola ini program. Bagi saya, mereka menjalankannya sangat lambat dan tidak terarah. Bahkan kemaren masih belum jelas koordinasi dan perencanaan untuk project yang akan dilakukan  ini.

Inilah tantangan seorang leader dalam memimpin organisasinya. Tantangan untuk membuat sesuatu yang tidak berjalan secara teratur untuk menjadi teratur karena ada tujuan yang harus dicapai. Apa itu? Tujuan bersama tentunya karena organisasi itu terdiri dari kumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama, dan dalam konteks project, tujuannya adalah QCT atau singkatan dari quality, cost yang rendah dan time yang sesuia dengan target pengerjaan untuk satu proyek.

Melihat kondisi yang ada, tentu leadership sangat diperlukan agar bisa berhasil proyek tersebut. salah satu gaya kepemimpinan yang dibutuhkan adalah otoriter karena untuk menggerakkan orang-orang seperti itu, harus tegas dan minimalisir toleransi karena toleransi hanya akan membuat tujuan pelaksanaan proyek tidak akan bisa mencapai tujuanya. Ini akan berdampak fatal bagi pelaksanaan proyek. Inilah yang saya lakukan kemaren. Bagaimana menerapkan gaya kepemimpinan otoriter karena semua orang belum gesit menjalankan setiap program dalam proyek tersebut.

Inilah yang menjadi pelajaran berharga untuk setiap entrepreneur yaitu bagaimana mereka harus memiliki leadership yang kuat agar bisa menggerakaan setiap roda organisasi yang namanya perusahaan. Dan bagi seorang follower, diperlukan pemahaman yang baik tentang kenapa dan bagaimaan ketegasan seorang pemimpin dalam situasi seperti itu.


Tim STRABIZ Management Consulting 
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: