Perburuan apa ? Berburu rusakah ? Bukan, bukan berburu rusa, tapi berburu sekolah. Ya, masa berburu telah usai dengan mulai bersekolahnya para siswa baru baik tingkat SD, SMP maupun SMA di minggu ini. Untuk beberapa orang tua dan siswa, bisa jadi 'perburuan' sudah dimulai jauh hari sebelum hari ini. Konon kabarnya ada beberapa oknum ortu jauh-jauh hari sudah menyiasati sistem rayonisasi dengan cara 'pindah alamat'.


Kemudian saat UN, juga terdengar selentingan beredarnya 'kunjaw' alias kunci jawaban. Dan saat nilai UN diberikan lewat pos, terdengar beberapa kabar adanya 'nilai-nilai siluman' alias ada siswa yang tergolong biasa-biasa saja bahkan termasuk siswa bermasalah, namun nilai UN nya malah tergolong tinggi. 


Yang saya bingung adalah apa yang sebenarnya ada di benak para oknum ortu itu ya ? Memaksakan kehendak agar anaknya diterima masuk sekolah negeri bahkan yang favorit, walau dengan cara apapun ? Kasihan sekali, anak-anak itu dijadikan objek untuk memenuhi keinginan ortunya, namun tanpa sadar para oknum ortu tersebut menanamkan ketidakjujuran pada anak-anak. Sebagai seorang entrepreneur apa yang dapat diambil pelajaran pada fenomena tersebut ? Ya, kejujuran adalah yang utama. Dengan kejujuran akan timbul kepercayaan.


Dan dengan kepercayaan bisnis akan tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan. Pelajaran lainnya adalah kesadaran melihat kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Keinginan mencapai sesuatu yang tinggi boleh-boleh saja, tapi apakah kita mengetahui di mana kemampuan kita saat ini. Mengembangkan bisnis tentu sah saja, asalkan dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan diri. Satu hal lagi yang bisa di petik pelajaran adalah segala sesuatunya ada proses dan perencanaan jauh sebelumnya. Jika ingin memiliki bisnis yang tumbuh, maka buat dan terapkan proses bisnisnya, dan lakukan perencanaan seakurat mungkin.


Kembali ke dunia 'perburuan' tadi, selamat buat para orang tua dan siswa baru yang telah mulai bersekolah di sekolahnya yang baru, yang telah menjunjung tinggi kejujuran, menghargai kapasitas diri, dan telah melakukan proses dengan benar. 
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: