Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan keuntungan berlimpah saat berinvestasi? Ya, siapapun orangnya pasti akan tergiur dengan penawaran investasi yang menjanjikan hasil berkali lipat jumlahnya. Hanya duduk manis kemudian uang puluhan hingga ratusan juta jatuh ke pangkuan.


Namun pada kenyataannya, janji-janji manis tersebut tak ubahnya seperti angin surga semata, mereka yang terpikat bukannya meraup untung tapi malah buntung.


Berdasarkan data Waspada Investasi OJK, dari tahun 2013 – 2014 tercatat ada 2.772 pengaduan dari masyarakat tentang penawaran investasi bodong. Bahkan total kerugian minimal bisa mencapai Rp45 Triliun, baik yang masuk ke dalam kategori investasi bodong ataupun investasi yang mencurigakan.


Kaukabus Syarqiyah, Perencana Keuangan dari Kaukabus Financial Literacy Center, sangat menyayangkan kejadian ini. Padahal lembaga-lembaga seperti ini tidak semuanya berstatus bodong atau fiktif.


“Tapi faktanya ada oknum-oknum yang membuat lembaga investasi menjadi buruk sehingga menimbulkan trauma bagi masyarakat. Jadikan fenomena ini sebagai pelajaran. Dan biar bagaimanapun proses seleksi itu ada di tangan Anda selaku calon investor,” tutur wanita yang akrab disapa Kikau ini.


Kikau juga menjelaskan, lembaga investasi yang bodong merupakan pihak ketiga yang berusaha melakukan money game yang sama sekali tidak terkait dengan wujud bisnisnya.


“Mereka sangat tahu betul bagaimana karakter masyarakat yang ‘haus’ akan uang. Sehingga tanpa menjelaskan lebih rinci jenis bisnisnya, oknum-oknum ini langsung menawarkan keuntungan. Misalnya dengan investasi yang kecil namun bisa menghasilkan keuntungan yang besar, cepat, dan tanpa usaha.”


“Inilah yang disebut dengan passive income. Tetapi idealnya passive income adalah yang bisa membuahkan keuntungan lewat berbisnis. Nah, investasinya saja sudah tidak jelas, Anda tidak perlu melakukan apa-apa tetapi dijanjikan keuntungan yang besar,” tutur Kikau .


Menurut Kikau, alasan seseorang mudah tergiur pada investasi bodong juga karena tawaran bunga yang besar dibandingkan perbankan. Semakin besar investasi Anda, maka bunga yang didapat pun bisa jauh lebih besar.


Agar Anda terhindar dari investasi bodong, coba terapkan 6 tips dari Kikau berikut ini:


1. Cari tahu dahulu informasi secara detail tentang lembaga tersebut


“Langkah pertama yang harus dilakukan calon investor adalah mencari tahu terlebih dahulu informasi lengkap dari lembaga yang menawarkan investasi. Kalau perlu kroscek sampai tuntas mengenai kantor lembaganya, karyawan, dan produknya,” ujar Kikau.


2. Datang langsung untuk melihat produknya


“Karena hal ini mempertaruhkan uang Anda, jadi Anda wajib datang langsung untuk melihat produknya. Jangan sampai fiktif. Misalnya lembaga tersebut menawarkan investasi hewan Qurban, maka Anda juga harus tahu bagaimana mereka mempersiapkan produknya dan bagaimana pangsa pasarnya,” ujarnya. Dan jika perlu, mintalah data salinan tertulis rencana pemasaran dan penjualan dari perusahaan


3. Lihatlah risiko secara utuh.


Menurut Kikau, tidak sedikit masyarakat yang ‘buta’ akan penawaran investasi seperti ini.


“Jadi mereka lebih senang melihat return-nya dibandingkan risiko yang bisa terjadi. Sehingga alangkah baiknya bila Anda menganalisis dampak positif dari keuntungan namun juga kemungkinan risiko yang terjadi”


“Ingat, semakin besar keuntungan yang diiming-imingi, semakin besar risiko kerugian yang akan Anda alami. Bukan sebaliknya,” jelas Kikau.


4. Hindari promotor yang tidak tahu rencana bisnis perusahaan.


Selanjutnya adalah hindari promotor yang tidak tahu tentang rencana bisnis perusahaan.


“Logikanya, berinvestasi harus memahami jenis bisnisnya seperti apa. Lalu, apabila promotornya saja tidak bisa menjelaskan secara gamblang, bagaimana mereka bisa memberikan keuntungan?”


“Bagi Anda calon investor, sebaiknya terapakan ’10 second to think’ sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau tidak. Jangan langsung bersedia jadi investor hanya karena diiming-imingi uang yang banyak,” tutur Kikau.


5. Cari tahu apakah ada permintaan untuk produk sejenis di pasaran


“Cara lain yang bisa dilakukan adalah mencari tahu apakah ada permintaan untuk produk sejenis di pasaran atau tidak. Jika ada, ini bisa menjadi pertimbangan baik bagi Anda, tentang peluang bisnis jangka panjang”


“Setidaknya Anda bisa memperkirakan strategi bisnis yang dimiliki dan bagaimana lembaga tersebut berupaya menghasilkan keuntungan,” ucap Kikau.


6. Pilihlah investasi yang menguntungkan seperti membeli properti


Menurut Kikau, berinvestasi di bidang properti adalah pilihan yang tepat. Anda bisa tahu lokasi, bangunan, dan siapa pengembangnya.


“Properti memiliki karakteristik yang menguntungkan seperti nilai jualnya yang akan semakin tinggi semakin lama. Anda diajak untuk berkomitmen terhadap pihak bank atau pengembang. Jadi Anda tidak hanya duduk diam, tetapi Anda terus berusaha agar properti Anda memiliki nilai tambah,” ujarnya.


Wasudewan, Country Manager Rumah.com, menambahkan, sektor properti merupakan kebutuhan masyarakat di manapun. Dan untuk menjadi investor properti yang sukses, salah satu kuncinya adalah memahami lokasi yang menguntungkan.


“Salah satu syarat properti yang bagus adalah mudah terlihat dari dalam kendaraan yang melintas. Semakin banyak yang melewati lokasi properti, maka nilainya semakin tinggi karena menunjukkan mudahnya akses menuju lokasi tersebut. Ada pula tipe properti yang lokasinya dekat pemandangan alam seperti pantai, puncak bukit atau gunung dan lainnya. Dan saat ini, tipe lokasi yang memiliki permintaan tinggi di perkotaan adalah bangunan yang dekat dengan pusat bisnis,” ujarnya.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: