Disaat mulai berbisnis, kita sering diajari untuk selalu berfikir profit, sehingga di masyaraat berkembang sebuah pemikiran yang umum dinyatakan sebagai prinsip ekonomi. Menurut definisi, prinsip ekonomi adalah tindakan yang dilakukan dalam kegiatan ekonomi dengan berpegang pada asas berusaha untuk mengambil hasil yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.


Berdasarkan pengertian di atas, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip ekonomi yaitu sebagai berikut:


a.    Dengan pengorbanan yang sedikit untuk mencapai hasil tertentu


b.    Dengan pengorbanan tertentu untuk mencapai hasil yang maksimal.


Tetapi, apakah pola pikir masyarakat dalam menyikapi bisnis semua sama? Di era digital, terutama dalam 5 tahun terakhir, ada situasi yang menarik, dimana konsumen melakukan pembelian barang dan jasa secara subjektif. Konsumen memilih penyedia barang dan jasa yang bersedia memuaskan keinginannya.


Jika melihat data statistik kependudukan, dimana jumlah peduduk miskin terus menurun dan pendapatan per kapita Indonesia terus meningkat, secara umum dapat dikatakan daya beli masyarakat meningkat. Dan peningkatan daya beli ini merubah gaya hidup masyarakat akibatnya konsumen semakin sensitif dalam memilih penyedia barang dan jasa.


Fungsi tidak lagi menjadi tujuan utama, tetapi kepuasan emosi lebih menjadi tujuan. Artinya benefit jadi sebuah asesoris yang diharapkan dapat diperoleh dari sebuah bisnis. Sehingga, model bisnis sosial atau sosial entrepreneur menjadi mudah diterima.


Banyak konsumen yang memilih barang dan jasa karena perusahaan penyedia memberikan manfaat tambahan, misalnya ada donasi bagi komunitas marjinal. Termasuk juga penggunaan produk ramah lingkungan atau produk anti trafficking, yaitu produk yang tidak dihasilkan oleh pekerja anak.


Jika dulu konsumen memilih produk murah, saat ini konsumen berani membeli produk yang mahal dan berkualitas. Sayur organik walau dijual hampir dua kali lipat dari sayur berpestisida, permintaanya terus meningkat. Makanan dengan embel-embel sehat makin banyak bertebaran, karena masyarakat makin faham arti sehat dan juga kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.


Menghadapi konsumen yang berani berkorban, maka perusahaan pun tidak boleh pelit. Tidak harus memberi secara fisik, karena emosi memiliki nilai yang lebih. Sehingga semakin emosinya terpenuhi, maka konsumen semakin loyal. Kaitan dengan bisnis sosial,akhir-akhir ini program CSR pun akhirnya terus berkembang.


Perlu diingat, konsumen juga stakeholder. Dalam ISO 26.000 tentang CSR, charity hukan satu-satunya program. Kegiatan yang melibatkan konsumen pun adalah bagian dari CSR. Sebagai blogger, dari beberapa event CSR yang saya ikuti menunjukkan bahwa semakin besar perusahaan berbagi, semakin banyaklah peningkatan pada market. Sebagai contoh, sebuah usaha mikro yang menyelenggarakan lomba foto selfie dengan hadiah telpon genggam, dapat meningkatkan penjualan hingga 300%. Atau seorang blogger mengadakan lomba menulis dengan hadiah produk ukm, tak disangka, ada lebih dari 100 tulisan masuk, merebutkan 15 hadiah. Bonusnya, sang blogger menjadi semakin terkenal. Contoh lain adalah Gamal Albinsaid, dokter muda asal Malang yang terkenal karena membuka klinik sampah. Klinik pengobatan dengan bayaran sampah. Jangan ditanya apa yang didapat.


Saya sendiri, mencoba berbagi resep dari bisnis kecil keluarga. Mungkin bodoh, saya mengunggah resep rahasia keluarga. Diluar dugaan, saya menerima lebih dari 500 likes, lebih dari 200 komen dan konsumen baru. Percayalah berbagi tak pernah rugi, selama kita terus berlatih dan berusaha memperbaiki kekurangan, maka konsumen tak kan lari. Bukankah rejeki tidak tertukar. Yuk trus berbagi.


Happy monday, terus semangat berwirauaha.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: