“Kang Meriza, bantuin dong saya membuat fanpage untuk bisnis saya, karena saya kurang ahli dalam memanfaatkan sosial media” inilah pertanyaan yang disampaikan oleh salah satu binaan. Anak muda ini adalah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung dan juga berbisnis Ramen di Kota Kelahirannya yaitu Kabupaten Purwakarta.


Saya langsung terdiam ketika diminta untuk membantu anak muda. Keterdiaman ini karena kok bisa seorang anak muda yang sejatinya sudah terbiasa dengan sosial media seperti facebook tetapi tidak bisa mengaplikasikannya dalam bisnis. Sesuatu yang membuat saya menjadi miris terhadap kesadaran anak muda terhadap satu konsep yang pasti seharusnya sudah mereka pahami dan gunakan dalam membangun bisnis.


Konsep itu adalah komunikasi bisnis yang memang sejatinya setiap entrepreneur mengetahui, memahami, menghayati serta menanfaatkannya dalam setiap aktivitas bisnis yang mereka jalankan, baik komunikasi internal maupun komunikasi eksternal dengan para stakeholder lainnya.


Komunikasi Bisnis


Dalam setiap aktivitas bisnis yang dijalankan oleh para entrepreneur, mereka tidak bisa lepas dari komunikasi dengan internal dan eksternal perusahaan. Akibatnya adalah tentu kepada pencapaian tujuan bisnis yaitu bisnis yang menghasilkan laba (profit), memberikan manfaat bagi banyak orang (people), menjaga kelestarian alam (planet), berkelanjutan serta bisnis yang tumbuh dan berkembang dari skala mikro, kecil, menengah dan besar.


Komunikasi pada hakekatnya adalah bagaimana entrepeneur (sender) mengirimkan pesan kepada penerima pesan (receiver) dengan media yang tepat sehingga mereka memberikan feedback kepada entrepreneur. Tentu, feedback yang diharapkan adalah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh entrepreneur.


Komunikasi bisnis yang dijalankan dengan pihak internal adalah dengan para karyawan dan owner. Ingat, karyawan saat ini adalah aset dan komunikasi dengan mereka harus bisa efektif dan efisien, khususnya dalam konteks “how”nya, baik komunikasi verbal maupun non verbal sehingga karyawan akan bisa bekerja untuk perusahaan dengan sepenuh hati. Demikian juga dengan owner sebagai orang yang paling menentukan bisnis itu kedepannya.  


Adapun komunikasi eksternal berhubungan dengan komunikasi yang dilakukan entrepeneur dengan konsumen, distributor, pesaing, supplier, pemerintah, perbankan dan lain-lain. Intinya adalah para entrepreneur diharapkan dapat melakukan komunikasi secara efektif dan efisien.


Komunikasi verbal berhubungan dengan bagaimana para entrepreneur menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan kepada pihak internal dan eksternal. Kemampuan komunikasi lisan akan menentukan sejauh mana orang akan mau mengikuti apa yang diharapkan oleh para entrepreneur. Pemilihan kata-kata yang tepat akan bisa mendorong orang untuk memberikan tanggapan positif.


Demikian juga dengan komunikasi tulisan seperti yang dimintakan oleh binaan tadi, yaitu dengan membuatkan fanpage. Salah satu keterampilan yang harus diasah adalah kemampuan untuk menuliskan pemikiran atau pesan yang efektif. Contoh lainnya adalah surat penawaran kerjasama bisnis, ataupun proposal bisnis yang nantinya akan dibaca oleh para stakeholder entrepreneur itu sendiri.


Bagaimana dengan aspek komunikasi non verbal? Seringkali orang kurang memperhatikan aspek ini sementara, menurut suatu penelitian, 93% seorang receiver dalam komunikasi itu dipengaruhi oleh bahasa non verbal. Artinya adalah, selain bahasa verbal, baik lisan maupun tulisan, komunikasi para entrepreneur akan sangat ditentukan oleh bahasa nonverbal mereka.


Apa saja itu? Tentu orang mengenal dengan bahasa tubuh, mimik muka, gerak tangan, pakaian, jarah orang berbicara sampai dengan penampilan para entrepeneur. Inilah yang perlu menjadi perhatian entrepreneur untuk membangun komunikasi bisnis yang efektif dalam setiap aktivitas bisnis  mereka. Oleh karena itu, marilah entrepreneur muda di Kota Bandung untuk meningkatkan knowledge, skill dan attitude dalam komunikasi bisnis.. Sukses buat kita semua.....
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: