Akhir-akhir ini, dunia usaha Indonesia mengalami gejolak. Salah satu penyebabnya adalah akibat terpuruknya nilai tukar rupiah hingga menembus angka 14.100,-. Angka terlemah rupiah terhadap US dolar yang hampir sama seperti saat krisis moneter tahun 1998 lalu.



Bagi entrepreneur muda dan pemula, cepat atau lambat, akhirnya mengalami juga dampak negatifnya. Dampak paling terasa adalah kegalauan dalam penyesuaian harga. Pilihannya, 1. Harga tetap dengan menambah value atau mengurangi cost? 2. Harga dinaikkan dengan atau tanpa ada perubahan value dan cost? Atau pilihan-pilihan lainnya.



Memang terdengar sebagai sebuah problem klise. Salah seorang siswa binaan saya di GES (GIMB Entrepreneur School) pun mengalami hal yang sama. Dia mengutarakan kegalauannya, terutama berhubungan dengan bagaimana mengatasi turbulensi bisnis yang diakibatkan oleh tidak menentunya kondisi perekonomian saat ini.



Nah, satu hal yang saya tekankan dalam hal ini adalah justru di saat seperti inilah bisa dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kreativitas. Saya ingat pesan seorang guru bisnis saya yang mengatakan, “Jika kamu mau lebih kreatif, ciptakanlah selalu kondisi galau dalam keseharianmu!”



Pesan ini persis sama seperti apa yang dilakukan oleh nahkoda Samsung, Lee Kun Hee, yang selalu menanamkan “sense of crisis” setiap hari pada seluruh timnya. Inilah kondisi dimana diri kita bisa selalu termotivasi tinggi untuk bergerak lebih maju, lebih baik setiap harinya. Menciptakan “hiu kecil” yang selalu mengejar dan memaksa seseorang untuk bergerak.



Bagaimana kita bisa menjadikan rasa galau menjadi sebuah dorongan positif? Tentu hal ini bergantung pada bagaimana cara pandang seseorang menghadapi sebuah permasalahan. Ketika dia mampu memaknai positif, maka seburuk apapun masalah yang dihadapi bisa memberi manfaat yang luar biasa.



Saya cermati, ternyata tokoh-tokoh sukses kelas dunia, mereka senantiasa “menginstall rasa galau” ini dalam dirinya. Dengan kata lain, ada percikan kerisauan yang berasal dari kombinasi antara harap dan cemas yang dikemas menjadi paket powerful.



Di sini diperlukan sebuah soft skill yang didasari oleh kemampuan emosional (EQ) dari kekuatan qalbu yang kuat, sehingga bisa menyeimbangkan keduanya (harap dan cemas), serta mengubahnya menjadi sebuah kekuatan pendorong yang kuat. Tidak terjebak pada salah satu diantaranya. Jadi, lebih daripada sekadar the power of kepepet.



Sebagai contoh, GIMB Entrepreneur School dibangun berawal dari perasaan galau para foundernya terhadap masih lemahnya kualitas SDM Indonesia, khususnya dalam bidang entrepreneurship, sehingga tergerak untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas entrepreneurship menuju Indonesia Unggul, Indonesia yang lebih baik. Amin.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: