Pernahkah kita berfikir bahwa rutinitas yang secara berkesinambungan kita jalankan setiap hari tanpa disadari telah membentuk dan menjebak kita menjadi manusia sistemik yang terpola, dan bahkan menjauhkan kita dari hal-hal yang bermakna spiritual. Alangkah baiknya kita meluangkan waktu sejenak untuk berkontemplasi dan melakukan proses perenungan guna meluruskan kembali tujuan dan makna hidup yang hakiki sebagai makhluk Tuhan yang beradab.


Kerusakan dan kebobrokan yang terjadi di semua elemen masyarakat kita sekarang ini tiada lain disebabkan karena kita tidak mengerti tujuan dan makna hidup yang sebenarnya. Sedari kecil kita diajarkan oleh orang tua dan guru kita untuk menjadi pintar agar nantinya menjadi orang sukses di kemudian hari. Indikator keberhasilan seseorang yang ditanamkan dalam pemikiran kita sejak kecil ukurannya adalah materi, sehingga tanpa disadari pemikiran ini membentuk kita menjadi manusia hedonis yang mengagungkan materi sebagai sumber yang bisa mendorong manusia mendapatkan kebahagiaan. Sukses dapat dimaknai ketika kita mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, mempunyai jabatan dan kedudukan yang tinggi atau menjadi pengusaha yang kaya raya. Pergeseran nilai ini menyeret dan membentuk paradigma baru di kalangan masyarakat. Kekayaan berlimpah dan jabatan tinggi memposisikan seseorang pada derajat dan status sosial yang tinggi, dihargai, disegani dan ditokohkan. Sehingga tidak mengherankan, orang berlomba-lomba mencari kekayaan dan kedudukan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan ini walaupun dengan menghalalkan segala cara.


Kondisi ini membentuk suatu pola hidup yang mengagungkan kebendaan (hedonisme). Pola hidup hedonis ini semakin menjauhkan kita dari karakter manusia sebagai insan Tuhan. Orang-orang hedonis memandang materi adalah segalanya. Materi seakan menjelma menjadi sesuatu yang sakral, diagungkan, diburu dan dianggap sebagai dewa penyelamat yang bisa menyelesaikan semua persoalan. Tanpa disadari masyarakat hedonis telah menempatkan materi tak ubahnya seperti Tuhan. Nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan hidup bermasyarakat sudah semakin bias. Nilai-nilai yang dulu dianggap tabu, kini sudah menjadi hal yang lumrah dan sering ditemui di tengah-tengah masyarakat.


Menilik pergeseran nilai yang sekarang terjadi, sudah merupakan suatu kewajaran jika bangsa kita sekarang terpuruk di semua bidang kehidupan. Korupsi, tawuran pelajar, pembunuhan, pemerkosaan, sek bebas dan bentrokan antar kelompok masyarakat sudah menjadi hal yang lumrah terjadi. Banyak nyawa manusia melayang sia-sia seakan tidak ada nilainya sama sekali. Predikat manusia sebagai makhluk yang beradab, berakhlak dan berbudi jatuh pada titik nadir. Sungguh sangat merendahkan derajat manusia sebagai manusia. Pertanyaan mendasar muncul, dimanakah peran institusi pendidikan dan institusi agama? Bukankan pendidikan dan agama merupakan benteng yang kokoh untuk menangkal semua ini? Benar sekali, namun permasalahannya adalah, pendidikan kita tanpa disadari terdorong hanya mencetak orang-orang “pintar”, bukan mencetak orang-orang yang “mengerti”. Begitupun juga dalam kehidupan beragama, tanpa disadari kita terjebak ke dalam formalitas ritual tanpa mengerti esensi dari ritual keagamaan tersebut. Kita selalu disuguhi pandangan-pandangan dogmatis tanpa perlu ada bantahan atau pertanyaan yang sifatnya mendasar. Sehingga tidak mengherankan, banyak proses ritual beragama tidak merubah karakter manusia menjadi lebih baik sebagaimana tujuan agama itu sendiri. Pelaksanaan ritual agama hanya sebatas menjalankan kewajiban saja. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada sekelompok orang melakukan tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama sebagai bentuk pengabdian spiritualnya. Sangat kontradiktif memang. Tuhan sebagai simbol kelembutan, keagungan, kedamaian, keindahan, cinta kasih dan sifat-sifat baik lainnya diejawantahkan dalam tindakan kekerasan dan tindakan memaksakan kebenaran. Tuhan pasti menangis melihat semua ini.


Ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan dan pengajaran agama di Indonesia dalam 50 tahun terakhir ini. Agama dan pendidikan sebagai institusi sentral dalam pembentukan karakter manusia seutuhnya boleh dikatakan “belum berhasil”. Hal ini bisa dilihat dari semakin merosotnya nila-nilai luhur berbangsa dan bernegara. Hal ini disebabkan karena esensi dari pesan pendidikan dan agama tidak sampai ke masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi landasan moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat kini semakin bias dan hilang.


Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita semua untuk mengembalikan peran sentral kedua institusi tersebut. Membaca kilas balik perjalanan kita setiap hari adalah proses awal dari perjalanan spiritual manusia  dalam menemukan makna hakiki yang tersembunyi. Olah rasa  ini sebagai dasar atau referensi bagi kita semua dalam melakukan kontemplasi dan proses perenungan tersebut, yang nantinya akan membawa kita memasuki gerbang realita yang sebenarnya, pencerahan tertinggi. Ketika kita telah sampai pada titik pencerahan tertinggi, semua rahasia yang tersembunyi akan tersingkap dengan sendirinya. Pada tataran inilah kita telah memasuki gerbang kebahagiaan yang sempurna, kebahagiaan yang bersumber dalam diri, bukan fata morgana dan bukan kebahagiaan semu yang menipu. Pada tataran ini pula kita telah bisa memberdayakan fungsi otak kiri dan otak kanan kita dengan seimbang, sehingga filter untuk menembus titik sentral Nur Illahi (God Spot) dapat dengan mudah dimasuki. Pada tataran ini pula kita akan mampu menghadirkan kasih sayang ke semua makhluk tanpa terkecuali. Ketika ini tercapai, niscaya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menuju masyarakat adil dan makmur akan terwujud. 
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: