Penyalah gunaan ini relatif sering terjadi, yang mengatasnamakan Koperasi tidak sesuai dengan nilai dan prinsipnya. Akhirnya mindset masyarakat umum mengenai Koperasi tidak sesuai dengan asas dan kepentingan Koperasi. Sebagian besar masyarakat berasumsi jika rentenir itu yah Koperasi.


Maraknya kegiatan rentenir berkedok usaha koperasi simpan pinjam telah lama menjadi polemik di tengah masyarakat Indonesia. Praktik bisnis dan usahanya terang benderang dan berhasil membangun sistem kredit dengan nasabah, meski menerapkan bunga tinggi. 


Telah menjadi rahasia umum, kegiatan usaha yang melanggar asas koperasi tersebut tanpa tindakan nyata dari Pemerintah. Kehadirian rentenir berkedok koperasi meresahkan masyarakat. Rentenir tersebut berpura-pura menjadi koperasi padahal memberikan bunga yang sangat tinggi. Sehingga masyarakat yang meminjam uang di koperasi tersebut menjadi terjerat dan sulit membayar hutang.


Mindset yang terus di tempa oleh polemik tersebut, berakibat sulitnya memperbaiki citra Koperasi itu sendiri.


Dengan kenyataan ini, sangat menjadi PR besar bagi pelaku dan pemerhati Koperasi supaya Koperasi kembali kepada ruhnya. Menurut ketua Koperasi wjs Kuswandi Taufik, saat ini perlu Kolaborasi dari berbagai pihak yang perduli kepada jalan hidup Koperasi itu sendiri.


“saat ini Koperasi butuh banyak orang, butuh banyak peran, butuh banyak volunteer perubahan. Citra Koperasi harus di benahi dengan berkolaborasi, baik dari masyarakat ataupun Pemerintah yang mempunyai kebijakan peraturan untuk Koperasi itu sendiri” ujar Kuswandi Taufik (09-12-2016) 


Memang citra tersebut seperti hal sederhana, akan tetapi jika terus dibiasakan dan di biarkan maka akan berdampak lebih dalam kepada mindset yang tidak dapat di kontrol. Dimana masyarakat beranggapan bahwa Koperasi dan rentenir merupakan hal yang sama.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: