“Saya dulu bekerja di perusahaan telekomunikasi dan sudah mendapatkan kompensasi yang jauh lebih dari cukup” kata Akhmad Avif ketika mengawali cerita tentang latar belakang beliau memilih untuk menjadi seorang pensiunpreneur dengan bisnis Raja Rawon bersama istrinya. Memang Avif adalah mantan karyawan salah satu perusahaan telekomunikasi sejak menamatkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta milik BUMN di Kota Bandung,


Pilihan menjadi seorang karyawan rupanya tidak selalu sejalan dengan keinginan dan harapannya untuk menjadi seorang suami dan ayah bagi putra-putrinya. Dengan dukungan istri tercinta, Vita Naluri Bakti, Avif berani memutuskan untuk menjadi seorang pensiunpreneur dan meninggalkan berbagai fasilitas yang didapatkannya dari perusahaan pada tahun 2010 an. “Saya didukung oleh istri untuk berhenti dan memulai hidup baru” kata Avif.


Dukungan instrinya untuk berbisnis menjadi darah segar untuk memulai kehidupan yang baru dan dengan uang pensiun, Avif langsung tancap gas memulai bisnis kos-kosan di Bandung dan ditambah dengan bisnis laundry dan juga rental mobil yang menyasar mahasiswa. Beliau mendapatkan kepuasan tersendiri untuk menjadi seorang pensiunpreneur dengan memiliki sekaligus tiga bisnis yang harus dikelola sendiri.


Akan tetapi, Tuhan berkendak lain dan ketiga bisnis tersebut terpaksa ditutup. “Ini adalah pelajaran berharga kalau bisnis tidak memiliki pengetahuan yang cukup karena memang saya memilih bisnis yang unrelated dengan pekerjaan sebelumnya serta memiliki pengetahuan yang terbatas” tambahnya. Rupanya, potensi bisnis itu ada pada sang istri yang memang jago masak. Avif mulai mengembangkan potensi istri yang hanya memasak untuk dirinya sendiri dan dicoba untuk dikembangkan dengan konsep bisnis dan manajemen yang dimilikinya.


Kolaborasi suami istri ini sungguh luar biasa. Vita, sang istri sangat kuat diproduksi sementara Avif dengan bekal pengetahuan dan pengalaman kerja di perusahaan orang lain menjadi modal yang kuat untuk sukses. Mulailah pasangan suami istri ini membangun bisnis dengan modal dari penjualan aset dari kos-kosan serta bisnis sebelummya. Pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola keuangan perusahaan dulu dengan posisi sebagai manajer, juga dimanfaatkan oleh Avif dalam pengelolaan keuangan perusahaan dengan nama Raja Rawon.


Demikian juga dengan pengetahuan dan pengalaman dalam pemasaran. “Kami sudah memiliki dua cabang yaitu di TSM dan Mall Festival Citylink” kata Vita. “Mas Avip yang mendesain dan mengembangkan pasar karena saya fokus di dapur” tambahnya. Memang pengetahuan dan pengalaman di perusahaan telekomunikasi dalam membangun pasar dan mengelola pasar sangat terasa  dalam mengelola Raja Rawon.


Hal  yang juga penting dilakukan oleh Avif adalah membuat Standard Operating Procedures (SOP) dari setiap aktivitas bisnis yang dijalankannya. “Membuat SOP adalah poin penting yang saya terapkan di perusahaan ini dan ini saya manfaatkan ilmu dan pengalaman di tempat dulu” imbuh Avif. “Demikian juga dengan pengelolaan sumber daya manusia yang saat ini sudah berjumlah 16 orang dan semuanya adalah karyawan Raja Rawon” tambahnya.


Ke depan, Avif berharap Raja Rawon akan terus berkembang dan dia merasakan kesenangan yang luar biasa ketika berbisnis rawon. Produk baru dan pasar baru juga akan terus dikembangkan dan terlihat bagaimana Avif merasakan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta sikap dan pengalaman di tempat kerja dulu adalah sebuah modal awal untuk lebih sukses dengan menjadi seorang pensiunpreneur. Oleh karena itu, Avif mengajak kenapa harus takut menjadi pensiunpreneur karena sejatinya seorang karyawan sudah memiliki modal yang bersifat tangible dan intangible untuk sukses.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: