Indonesia merupakan Negara demokrasi, dan identitas dari Negara ini adalah gotong royong dan saling menolong. Akan tetapi hal ini tidak lantas berdampak signifikan kepada perkembangan Koperasi, padahal nilai dan prinsip Koperasi sendiri tidak jauh berbeda dengan identitas Negara, yang berlandaskan nilai nilai gotong royong dan saling menolong.


Bahkan dalam skala internasional, hanya satu Koperasi di Indonesia yang masuk  interntional cooperative alliance (ICA), dari total 150.223 Koperasi aktif yang berada di Negara kita.


Dari berbagai kenyataan yang terjadi, revitalisasi Koperasi harus mulai di gerakan. Tidak hanya menjadi semangat tanpa ada implementasi.


Gerakan perubahan ini memang menjadi PR cukup sulit bagi pelaku dan pemerhati Koperasi, PR yang harus di di selesaikan bersama. Penyelesaian dari kenyataan yang di hadapi Koperasi di Indonesia harus di mulai dari mindset/pemikiran dasar tentang bagaimana peran Koperasi yang utuh untuk mensejahterakan anggotanya.


Revitalisasi Koperasi memang sudah di serukan oleh kalangan akademisi, government dan aktivis Koperasi. Akan tetapi peran dari pelaku Koperasi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Koperasi masih sangat timpang jumlahnya jika di bandingkan jumlah akademisi dan pemerhati Koperasi itu sendiri.


Bukan tidak mungkin revitalisasi Koperasi dapat terwujud, dan bahkan bisa di laksanakan percepatan-percepatan yang memunculkan gerakan baru revitalisasi Koperasi. Cara untuk melakukan percepatan revitalisasi Koperasi tidak lain antara berbagai usur pemerhati Koperasi dapat bersama untuk mensosialisasikan makna terdalam Koperasi di mulai dari orang orang terdekat.


Saya optimis, Koperasi bisa menjadi soko guru perekonomian Indonesia yang utuh. Serta bisa mensejahterakan seluruh anggotanya dan pasti akan berdampak terhadap menurunnya ketimpangan taraf ekonomi di Negara kita.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: