Sebuah percobaan dilakukan orang Swedia selama dua tahun terakhir ini. Di salah satu rumah panti jompo di kota Gothenberg, Swedia, para perawat yang melayani pasien orang jompo bekerja 6 jam sehari.


Para perawat melaporkan, kesehatan menjadi lebih baik, mengurangi absensi, dan kualitas perawatan pasien makin meningkat.


Direktur Panti Jompo Svartedalens Monica Axhede, awalnya puas dengan waktu kerja yang berkurang.


"Atmosfer kerja lebih santai. Di sini, kami memiliki banyak orang yang menderita demensia. Sebelum menerapkan waktu kerja 6 jam sehari, para pekerja yang seharian bekerja membuat pasien jadi. Itu juga membuat mereka sangat gugup. Sekarang mereka jadi lebih tenang,"jelas Monica, seperti yang dikutip Euronews, Kamis (5/1/2017).


Jam kerja 68 perawat yang awalnya 8 jam sehari, kini berubah 6 jam sehari. Gaji perawat tetap sama. Selain itu, ada penambahan 17 perawat baru dipekerjakan dengan biaya 1,26 juta euro atau setara Rp 17,7 miliar.


Gaji yang sangat tinggi ini dikarenakan banyak perawat yang absensi dan burnout, kegagalan bekerja termasuk yang tertinggi di negara ini.


Lebih bahagia dan produktif


Meskipun waktu bekerja 6 jam sehari sudah telah dihapus karena percobaan yang sudah selesai.  Kepala departemen balai kota setempat, Daniel Bernmar melihat kerja 6 jam sehari dapat menguntungkan dalam jangka panjang.


"Percobaan kerja 6 jam sehari mampu menciptakan lebih banyak lowongan pekerjaan. Tingkat cuti sakit yang lebih rendah dan kualitas perawatan menjadi lebih tinggi. Bagi saya, hal itu sangat bagus. Bagaimana kita dapat meningkatkan lingkungan kerja dan berpeluang menggaet para pekerja agar lebih nyaman bekerja untuk jangka waktu lama," jelas Daniel.


Selain itu, kerja 6 jam sehari dapat meningkatkan angka kepuasan bekerja.


"Saya kira, kita lebih efisien bekerja 6 jam sehari bukan 8 jam sehari. Pada dasarnya, pekerjaan tetap sama dilakukan saat bekerja 6 jam sehari. Manfaatnya, saya jadi punya banyak waktu melakukan aktivitas lainnya," kata Magnue Wikstrom, seorang teknisi, yang bekerja di pabrik Toyota.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: