Pemilukada atau pemilihan kepala daerah sudah berlalu, dan ada pelaksanaan putaran kedua menurut hasil quick count dimana hasil yang dicapai oleh beberapa pasangan calon atau paslon yang kurang dari 51%. Memang seharusnya menunggu hasil real count dimana angka aslinya tersebut ditetapkan oleh KPUD yang berwenang untuk menyatakan hasil akhir dari pemilukada tersebut. hanya saja, belum juga itu terjadi, perang opini di media sosial semakin gencar dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pendukung pasangan calon menjatuhkan lawan dengan mengungkit hal-hal yang sejatinya tidak perlu diangkat dan bahkan bersifat aib yang dimiliki oleh pasangan calon. Tentu hal ini perlu mendapatkan perhatian Bawaslu karena berhubungan dengan etika dalam pemilihan kepala daerah. 


Sebagai seorang entrepreneur, pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini adalah bagaimana sejatinya seorang entrepreneur itu berbisnis dengan dasar etika bisnis yang sangat relevan dengan nilai-nilai yang mereka pegang dalam berbisnis. Nilai-nilai ini berhubungan dengan aturan-aturan yang ada, baik tertulis maupun tidak tertulis. Ingat, hal ini ada di dalam konteks bisnis dan pastinya menjadi point utama dalam menjalankan bisnis saat ini. 


Seringkali orang hanya berfikiran pendek dan menghalalkan segala cara untuk bisa memenangnkan persaingan yang terjadi dalam bisnis. Aturan yang ada dilanggar dan bahkan pribadi dari seorang entrepreneur ataupun pribadi entrepreneur juta dijelek-jelekkan yang membuat banyak kerugian yang diterita oleh entrepeneur. Sejatinya hal ini tidak boleh dilakukan oleh para entrepreneur dalam berbisnis saat ini ataupun yang akan datang. 


Oleh karena itu, miliki mindset atau sikap mental bahwa bisnis itu harus beretika dimana ada aturan tertuis dan tidak tertulis yang harus dimiliki oleh setiap entrepreneur. Hal ini berawal dari pemahaman tentang aturan yang berlaku saat ini di bisnis itu sendiri. Belajarlah tentang aturan yang ada dan jangan sampai bersifat apatis atau cuek dengan aturan-aturan yang ada. 


Selanjutnya adalah bagaimana entrepreneur itu berfikirk dan merasakan tentang etika itu sendiri. Coba rasakan kalau hal itu terjadi pada diri sendiri dan itu berhubungan dengan bisnis dan diri sendiri. Rasa yang dimiliki itu akan menimbulkan pergerakan hati oleh para entrepreneur khususnya untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan etika bisnis. 


Barulah selanjutnya menjalankan etika bisnis tersebut karena itu menentukan bagaimana aksi atau etika bisnis dijalankan dengan baik. yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan evaluasi atas etika bisnis yang sudah dijalankan. Bagaimana dengan anda? Hmmm….
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: