Negara ini tengah menghadapi banyak cobaan yang luar biasa dan menimpa hampir seluruh bagian dari negara ini. Mulai dari gempa bumi, banjir sampai dengan gempa bumi yang kemaren terjadi di kebumen. Dampaknya? Jangan ditanya. Hampir sebagian besar penduduk negeri ini merasakan dampak dari musibah yang melanda negeri ini. Hal ini bisa dilihat dari tayangan media cetak maupun media elektronik.


Lalu, apa hubungannya dengan program CSR yang dijalankan oleh banyak pihak? tentu dalam hal ini tidak hanya perusahaan saja, akan tetapi bisa individu, organisasi nirlaba dan lain-lain. Ada satu statemen yang menggeltik kemaren yaitu bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam program CSR ini sangat “vulgar” dalam menjalankan program CSR mereka.


Terlihat bagaimana mereka mencoba untuk memperlihatkan kepada stakeholder bahwa mereka peduli dengan korban banjir, datang kelokasi banjir, diliput oleh media dan memasang berbagai atribut mereka di lokasi tersebut. Mereka berharap adanya publikasi yang optimal dari setiap kegiatan yang mereka jalankan.


Apa yang bisa dilihat dari kondisi seperti ini? terlepas dari program CSR tersebut memang harus dikomunikasikan kepada stakeholder perusahaan, akan tetapi, bukan begitu caranya. Komunikasi program CSR secara proporsional dan tidak berlebihan adalah kunci agar tidak dianggap pihak-pihak tersebut berlebihan dan tidak ikhlas. Inilah yang harus diperhatikan oleh setiap entrepreneur ketika menjalankan program CSR.


Konsep dari program CSR yang dijalankan oleh perusahaan harus jelas terlebih dahulu. Kejelasan ini penting agar bisa menjadi panduan dalam menjalankannya dan bisa diukur tingkat keberhasilannya. Visi dan misi serta tujuan, sasaran dan values yang jelas sangat diperlukan dalam menjalankan program ini. Konsep sincerity adalah salah satu acuan yang harus dimasukkan dalam dalam value tersebut.  


Sincerity merupakan konsep penting dalam program CSR. Bagaimana keikhlasan setiap entrepreneur dalam program CSR agar tidak terjadi “tuntutan” balas jasa atau apa yang sudah diberikan kepada stakeholder. jangan jadikan program tersebut sebagai bagian dari cara untuk “menyelamatkan diri” dari satu kondisi yang dimana perusahaan memberikan dampak terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam mereka.


Keikhlasan setiap entrepreneur dalam memberikan sebagian dari harta yang mereka miliki dan bahkan sudah membuat rencana atas program CSR mereka. Tidak menjadikan program CSR sebagai beban akan tetapi membuatnya jadi investasi untuk sebagian dari bisnis yang dijalankan. Tidak lagi diambil dari laba, akan tetapi sudah dianggarkan dari total dana perusahaan.


Keikhlasan juga ditunjukkan dengan program komunikasi yang “norak” dan berlebihan dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Komunikasi yang dijalankan harus benar-benar proporsional dan sesuai dengan yang dijalankan oleh perusahaan. Kejelasan membuat pesan, membuat tujuan, media yang digunakan, anggaran yang digunakan serta orang-orang terlibat dalam setiap program komunikasi yang dijalankan oleh pihak-pihak tersebut.


Kejelian membuat program komunikasi dengan memperhatikan hal-hal di atas akan dapat menampilkan bahwa perusahaan yang dijalankan tersebut memang ikhlas dalam program CSR nya. Inilah yang harus dimiliki oleh setiap entrepreneur agar program CSR nya tidak dianggap mengambil keuntungan di tengah musibah yang sedang terjadi.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: