Pilkada serentak yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari 2016 menghasilkan pemimpin terpilih (menang) dan pemimpin yang tidak terpilih (kalah). Kita patut bersyukur bahwasanya perhelatan akbar pesta demokrasi Indonesia secara keseluruhan sudah berjalan dengan baik walaupun tanpa dipungkiri masih ada catatan dan kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Suhu politik yang pada masa kampanye terasa panas kini kembali normal dan kondusif.


Masyarakat kita sudah dewasa berdemokrasi, mereka sudah siap menang dan siap kalah. Para paslon yang “kalah” dalam perhelatan ini secara legowo mengucapkan selamat kepada paslon yang “menang”. Inilah budaya yang patut kita pertahankan terus sehingga rekat tenun kebangsaan kita semakin kuat. 


Dari sekian perhelatan pilkada serentak di seluruh Indonesia, Pilkada DKI menyedot perhatian yang begitu besar dari masyarakat. DKI tak ubahnya adalah miniatur Indonesia. Berbagai suku, ras, agama, warna kulit dan berbagai kepentingan ada di Jakarta sehingga tidak mengherankan banyak pengamat yang mengatakan bahwa pilkada DKI adalah pilkada dengan rasa pilpres. Tidak salah memang, karena DKI merupakan kiblat kehidupan masyarakat Indonesia, baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Pilkada DKI masih menyisakan dua pasangan calon yang maju ke putaran kedua karena tidak ada pasangan calon yang meraih 50% plus 1 suara.


Pasangan calon yang maju ke putaran kedua adalah pasangan Basuki-Djarot dan pasangan Anis-Sandi. Kedua pasangan ini masih harus memeras pikiran dan tenaga untuk menarik para pemilih agar memilih mereka. Kedua pasangan calon harus mampu memetakan pasar (pemilih) sehingga mereka mampu membuat strategi pemasaran yang jelas dan terukur.


Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perhelatan pilkada serentak oleh para entrepreneur dalam menetapkan strategi untuk memenangkan persaingan. Para paslon yang berlaga di pilkada kemarin pada hakekatnya adalah para entrepreneur. Ada produk yang dijual. Mereka menjual program kerja sebagai produk yang ditawarkan kepada pemilih (customer). Untuk itu, tanpa dipungkiri bahwa strategi marketing yang tepat akan memberikan pengaruh yang besar untuk merebut hati pemilih (customer) dan memenangkan persaingan. 


Berikut tip dan strategi yang bisa diterapkan oleh para entrepreneur dalam uapaya memenangkan persaingan,


1.    Desain dan tetapkan produk yang tepat sesuai dengan kebutuhan (needs) dan keinginan (want) pelanggan.


Tanpa dipungkiri bahwa produk yang diterima pasar adalah produk yang memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Disamping itu juga, seorang entrepreneur harus fokus pada upaya-upaya penciptaan nilai pelanggan, artinya bahwa produk yang ditawarkan kepada pelanggan harus memberikan benefit/manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikorbankan oleh pelanggan dalam membeli produk kita. Itulah yang menjadi faktor pembeda (differentiation) dengan produk pesaing. 


2.    Menetapkan harga yang tepat.


Harga sangat terkait dengan faktor psikologis pelanggan. Perlu pemikiran dan analisa yang kuat dalam menetapkan harga. Penetapan harga yang salah tanpa memikirkan dampak psikologis pelanggan akan berakibat fatal. Misalnya, menetapkan harga rendah, dikhawatirkan bahwa produk kita memiliki kualitas yang rendah. Menetapkan harga yang tinggi dikhawatirkan produk kita tidak sesuai dengan daya beli pelanggan. Ujung-ujungnya tidak ada customer yang melakukan pembelian terhadap produk kita.


3.    Lakukan Promosi sesering mungkin secara efektif dan efisien.


Promosi adalah upaya mengkomunikasikan produk kita ke calon pelanggan. Promosi bisa menggunakan berbagai media, baik media cetak, media sosial maupun media elektronik. Pilihlah media mana yang memberikan dampak atau pengaruh yang kuat terhadap calon pelanggan. Analisa penggunaan media promosi berdasarkan efektivitas dan efiseiensinya, yang terpenting adalah bahwa pesan yang disampaikan sampai kepada calon pelanggan. Pesan yang disampaikan bertujuan untuk, pertama, Attention, maksudnya adalah memperkenalkan produk kita ke calon pelanggan sehingga mereka mengetahui produk kita. Kedua, Interest, calon pelanggan merasa tertarik untuk membeli produk kita. Ketiga, Desire, calon pelanggan memiliki hasrat yang kuat untuk membeli. Keempat, Action, calon pelanggan melakukan tindakan untuk membeli produk kita. Dan terakhir, Satisfaction, pelanggan merasa puas terhadap produk kita, sehingga tidak menutup kemungkina mereka akan membeli kembali produk kita dan mereferensikan produk kita ke temen-temen atau keluarganya.


4.    Siapkan saluran distribusi yang refresentatif.


Semakin mudah calon pelanggan mendapatkan produk kita, maka akan semakin besar pula potensi terjadinya pembelian. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan internet, saluran distribusi sudah tidak menjadi kendala lagi. Dewasa ini orang melakukan transaksi dengan menggunakan smart phone. Dunia sudah ada digenggaman kita. Walaupun demikian, seorang entrepreneur harus tetap memikirkan tempat yang refrentatif dan bisa dijangkau oleh calon pelanggan.


5.    Buat segmentasi pasar yang jelas.


Segmentasi pasar adalah pembagian pasar menjadi kelompok-kelompok homogen konsumer yang berbeda. Segmentasi pasar bisa dibagi menjadi, pertama berdasarkan geografis, artinya berdasarkan pada variabel regional seperti wilayah, iklim, kepadatan populasi, dan tingkat pertumbuhan populasi. Kedua, berdasarkan demografis, artinya berdasarkan pada variabel seperti umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan status keluarga. Ketiga, berdasarkan psikografis, artinya Berdasarkan pada variable seperti nilai, sikap, dan gaya hidup. Keempat, berdasarkan prilaku, artinya berdasarkan pada variabel seperti tingkat dan pola penggunaan, sensitivitas harga, dan kesetiaan merek.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: