Dalam satu kesempatan, saya ditanya oleh manajemen sebuah BUMN ketika membahas konsep pensiunpreneur bagi karyawan mereka yang akan memasuki masa pension. Waktu itu, saya menganggap pertanyaan tersebut sebagai sebuah pertanyaan yang biasa karena berhubungan dengan bagaimana seorang manajer bertanya untukmendapatan konsep untuk sebuah kegiatan yang akan dilaksakana. Benar-benar biasa saja saya mengganggapnya. Akan tetapi, hal itu menjadi mendalam ketika saya renungi dengan baik.


Konsep pensiunpreneur mungkin sebagian orang sudah sering mendengarkannya dan rasanya, tidak perlu diperdebatkan. Secara filsafat, tentu harus dipahami dengan baik konsep pensiunpreneur dengan baik. seringkali orang yang memiliki pemahaman yang belum sesuai dengan yang seharusnya. Akibatnya, tentu dalam kesimpulan juga berbeda dan berdampak kepada keputusan dan tindakan yang akan mereka lakukan sebagai seorang pensiunpreneur.


Dalam konteks ini, seorang pensiunpreneur itu merupakan seseorang yang pernah bekerja di perusahaan orang lain dan memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis. Hal ini adalah pendapat sederhana yang dapat dipahami oleh setiap orang. Dalam hal ini, karyawan tersebut tidak hanya dalam kapasitas mereka pada usia yang sudah harus memasuki masa pension, tetapi, juga ketika mereka masih muda dan memutuskan mundur dari perusahaan dan berani membuat sebuah bisnis. .


Inilah yang menjadi dasar seseorang menjadi pensiunpreneur. Pada hakekatnya, ketika masih muda dan memilih menjadi pensiunpreneur, orang itu memiliki advantage atau keunggulan dibandingkan dengan orang yang belum pernah bekerja. Hal yang sangat membedakan adalah bagaimana mereka memiliki knowledge, skill dan attitude sebaga seorang karyawan yang sudah mendapatkan pelatihan dan pendidikan tentang bisnis dan manajemen.


Inilah yang seharusnya menjadi bekal bagi setiap karyawan untuk menjadi pebisnis. Banyak orang yang tidak dapat memaknai dengan baik konsep ini karena melihat bukan fokus pada apa yang sudah dimiliki yaitu intangible asset berupa pengetahuan, pengalaman, sikap dan bahkan jejaring atau networking yang sudah dibangun ketika berstatus sebagai karyawan.


Setelah itu, barulah karyawan memilih bisnis yang sesuai dengan talent, knowledge, skill dan attitude serta morale dalam diri setiap karyawan. Pensiunpreneur itu harus memperkuat intangible asset dari tempat bekerja dang disinergikan dengan apa yang ada dipasar. Inilah yang akan memperkuat pilihan bisnis dan jalannya bisnis para karyawan yang memilih untuk menjadi pebisnis. So, masih takut menjadi seorang pensiunpreneur? Sekarang atau tidak sama sekali. 
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: