Kenapa harus malu bekerjasama dengan anak? Inilah pertanyaan dasar yang menggelitik dalam hati saya karena seorang calon pensiunpreneur terlalu jauh mencari peluang bisnis dan maunya yang besar serta dikenal orang. Atau sebaliknya, berinvestasi dengan teman yang memiliki potensi resiko rugi untuk konflik dengan teman dan lain-lain. 
 
Kondisi ini banyak sekali terjadi dan membuat calon pensiunpreneur baru lainnya “takut” untuk menjadi pensiunpreneur dikarenakan melihat banyak pensiunpreneur yang gagal dalam bisnis dan bangkrut. 
 
Seperti pepatah bilang, semut diseberang lautan keliatan sementara gajah dipelupuk mata tidak kelihatan. Sejatinya, ketika putra atau putri calon pensiunpreneur sudah ada yang memulai bisnis, … sekali lagi,sudah memulai bisnis tetapi membutuhkan tambahan ilmu dan pengalaman serta modal dan akses pasar, bisa jadi ini menjadi pilihan bisnis yang bisa dilakukan oleh calon pensiunpreneur. 
 
JANGAN MALU bekerjasama bisnis dengan anak. Yang diperlukan oleh anak adalah pengetahuan dan pengalaman bisnis serta manajemen yang dimiliki oleh calon pensiunpreneur. Yang tidak kalah penting adalah WISDOM dan jejaring yang dimiliki calon pensiunpreneur. Sementara, biarkah anak memiliki pengetahuan dan keterampilan ENTREPRENEURSHIP yang berbasis kreativitas dan inovasi. 
 
Kuncinya adalah tinggal membuat SURAT KERJASAMA dengan anak yang menggambarkan profesionalisme. Calon pensiunpreneur membedakan posisi sebagai REKAN BISNIS.
 
Inilah yang harus bapak dan ibu lakukan ketika ada peluang bisnis dari anak. So, masih takut jadi pensiunpreneur? Masih punya alasan untuk berlum berbisnis? Sekaranglah waktunya calon pensiunpreneur memulai bisnis atau TIDAK SAMA SEKALI.
Share To:

meriza hendri

Post A Comment: